02 Januari 2008

Pakis Monyet : Unik dari Istana Kerajaan Tiongkok


Disebut Pakis Monyet karena struktur atau bentuk fisiknya bak sosok monyet mungil yang nongkrong di atas pot.


December 29, 2007) Jangan kira tanaman ini hanya berupa akar serabut kelapa. Ia sejenis palm berjenggot yang masih muda. Tepatnya adalah ia serumpun dengan jenis pohon pakis yang biasa bertengger di sepanjang jalan protokol, perkampungan, dan taman dalam rumah.

Bila Anda melintas di sentra tanaman hias Jl. Harsono Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel), mungkin ada pemandangan unik. Pasalnya, deretan tanaman pakis monyet banyak ditemukan di sentra ini. Bukan harganya yang bikin heran beberapa orang yang melihatnya, tapi lebih karena bentuk dan bulunya yang jarang ditemukan pada jenis tanaman hias lainnya.

Tak heran bila ia diberi nama demikian, sehingga banyak pengunjung menanyakan harga yang dibandrol pada jenis ini. Dari informasi beberapa penjual di sentra ini, jenis tanaman ini didatangkan dari Palembang. Proses pencariannya harus melalui jalan setapak dalam hutan belantara. Dari bentuk fisik yang terlihat, memang cenderung berbulu laiknya monyet. Uniknya lagi, jenis pakis ini sebelum tumbuh daunnya, akan tumbuh batang menjulang serupa dengan ekor monyet.

Mengamati respon terhadap jenis ini, ia diprediksikan bakal menggeser eksistensi bonsai di pelataran bisnis florikultura. Pasalnya, harga yang ditawarkan jenis ini mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk ukuran yang berdiameter 17 cm. Sedangkan untuk ukuran diameter 24 cm dibandrol Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Itu dikatakan Joko, pemilik nurseri Agung Flora Jakarta.

Ia mengaku, hampir tiap hari mampu menjual 4 pot pakis monyet. Di ajang pameran pun pakis monyet sempat mengguncang pasar. Ini mungkin karena bentuknya yang aneh dan jarang dijumpai di Indonesia. Hanya yang dikhawatirkan para penjual, importir tanaman dari Tahiland ikut bermain untuk mematikan pasar tanaman bentuk unik ini.

Mengandung Nilai Historis

Di balik keunikannya, ternyata spesies ini juga mengandung nilai histories. Sebab, masih kata Joko, ia pernah mendapatkan komentar dari neneknya kalau tanaman pakis monyet ini berasa dari negeri Tiongkok. Dan sebelumnya, telah popular dengan nama golden chicken (ayam emas). Menurut asal-usul di negeri rumpun bambu, kalau pakis monyet biasa terlihat dan ditanam di dalam pemukiman atau tempat tinggal orang terpandang di jaman kerajaan atau pejabat-pejabat jaman dulu. Bahkan ia ditanam di sekitar luasnya area ruang balairung kerajaan di jaman Tiongkok kuno.

Karena mungkin sempat tenggelam ditelan jaman atau bisa jadi mulai langka peredarannya, tanaman ini dianggap antik. Dan di jaman modern ini, pakis monyet ini kembali muncul, sehingga tak heran bila kolektor berburu tanaman unik ini untuk diletakkan di dalam tempat tinggal mewah. Sebab, tanaman ini memang cocok ditaruh di dalam ruangan. Itu sesuai dengan proses perkembang-biakannya sebagai tanaman in-door.

Jenis ini ternyata juga bisa dikreasi seperti adenium. Ruas batangnya bisa dibentuk seperti pembudidayaan adenium pada umumnya. Hanya yang membedakan adalah sistem perawatannya.

Jika dilihat prospek bisnisnya, tanaman ini memiliki proses jangka panjang dan bakal berkompetisi dengan bonsai. Sebab, nilai pasarnya cenderung bersaing dan bahkan sempat menggeser nominal pasar bonsai. Bisa jadi, ke depannya malah bisa menyaingi adenium.

Tanaman ini memiliki sensifitas yang peka. Sesuai anjuran, tanaman ini harus disediakan tempat yang teduh. Bila tidak, maka pertumbuhannya makin melambat. Terkena air pun juga dilarang, karena jika kadar airnya terlalu banyak, maka akan busuk. Pakis monyet sebaiknya diletakkan di tempat teduh. Cara penyiramannya dengan merendamkan tanaman di atas media yang sudah diberi air. Itu dilakukan untuk menghindari daun pakis monyet agar tidak cepat rusak. Mengingat, harganya pun cukup mahal. Kalau panas berlebih pun, maka akan memperlambat tumbuhnya daun. [don] http://www.tabloidgallery.tk/

Tewas Berselimut "Jenmanii" Rp 7 Miliar

SUARA PEMBARUAN DAILY 28/12/07) Wardi, Agus, dan Asmo Pomo (Giyono) adalah juragan Anthurium jenmanii yang selalu menjadi rujukan penghobi tanaman hias. Empat jenmanii milik Wardi pernah ditawar seharga Rp 1,5 miliar, tetapi belum dilepas. Ternyata, jenmanii itu memang harus menjadi milik Wardi selamanya.

Bukan hanya empat, ratusan jenis Anthurium dengan nilai yang menggiurkan ikut terkubur bersama jasad Wardi. Seorang pengusaha asal Jakarta yang menitipkan dua anthurium-nya senilai lebih dari Rp 400 juta kepada Wardi (40), terpaksa harus melepas bunga kesayangannya dengan pasrah.

Pada Rabu (26/12) dini hari kelabu, sekitar 15 orang berkumpul di rumah Wardi. Nahas menimpa mereka.

Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, yang gemah ripah loh jinawi berkat si emas hijau itu, tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur dan isak tangis. Sedikitnya 35 warga dusun, terbenam dan terkubur hidup-hidup dalam lelehan tanah dari bukit di sisi selatan kampung itu.

Seorang bapak menyebut-nyebut nama anak dan istrinya sambil terbenam dalam duka. Desa yang dihuni 180 keluarga itu tiba-tiba harus berkurang 13 keluarga. Sebanyak 13 rumah hancur dan beberapa rusak parah.

Syaiful (37), suami Harsi (32), bapak dari Munir (11) dan Hamid (4), hampir tak bisa mengungkapkan kepedihannya. Istri dan dua anaknya tewas. "Kalau ditanya soal sedih dan duka, tidak bisa diukur. Saya hanya bisa pasrah saja. Ini sudah menjadi kehendak Allah," katanya di rumah orangtuanya yang tak jauh dari lokasi bencana.

Begitu juga Poniman (29). Dia harus kehilangan istrinya Jami (28), buah hatinya, Azka (1), dan ibu kandungnya, Sami (52), dalam musibah itu.

Sedangkan juragan jenmanii Asmo Pomo, kehilangan istri, anak, dan cucunya. Dia juga harus rela kehilangan indukan tanaman yang dia banggakan serta ratusan bibit yang baru disemai. Rata-rata harga jenmanii muda bisa mencapai Rp 1 juta. Tetapi ada juga yang berharga Rp 500 juta.

Syaiful mengisahkan, tragedi itu menyebabkan dia kehilangan bibit bunga yang baru saja dibeli senilai Rp 70 juta. "Belum laku, eh ternyata harus hilang," katanya dengan sedikit tertahan.

Saat kejadian, dia berada di Malang untuk mencari bibit tanaman pesanan pelanggannya. Tak lama dia mendapat pesan singkat (short message service/SMS, Red) dari keluarga yang memintanya segera pulang karena rumahnya kebanjiran. "SMS itu hanya berbunyi 'cepat pulang, rumah kebanjiran'. Jelas saya curiga dan langsung cabut," ujarnya.

Sesampai di kampung halaman, matanya nanar. Pikirannya kosong. Rumahnya sudah porak-poranda.

Sedangkan Agus, yang juga bakul Anthurium, kehilangan dua anak dan istri. Melihat jasad anaknya pun Agus tak kuasa. Kakinya hampir lumpuh ketika menyalatkan jasad anaknya yang baru ditemukan Kamis (27/12) siang. "Ah, harta bukan segalanya...," keluhnya panjang.

Rp 7 Miliar

Bukan hanya nyawa, harta benda milik warga juga ikut tertimbun longsoran tanah. Jenmanii bernilai miliaran rupiah, tak mungkin lagi diselamatkan.

Menurut kabar, di rumah Wardi yang bertingkat dua itu terkubur jenmanii senilai Rp 7 miliar. Rumah Wardi malam itu menjadi rujukan beberapa tetangganya. Setelah bekerja bakti membersihkan longsoran pertama yang tak seberapa, mereka menikmati hangatnya kopi sambil mengobrol. Sekitar 10 lelaki berkumpul di rumah itu. Sebagian dari mereka juga tidur-tiduran. Di samping 10 lelaki, di rumah Wardi juga ada tujuh anggota keluarga lainnya.

Longsor pertama tidak sampai menimpa rumah warga. Saat itu waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB dan warga memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing karena sudah masuk waktu salat Subuh. "Selang 15 menit kemudian terjadilah longsor besar itu," ujar Kepala Lingkungan Desa Ledoksari, Widodo.

Longsornya bukit yang tidak diduga sebelumnya itu langsung menimpa sekitar 15 rumah dengan 35 warga di dalamnya. Listrik mati. Warga hanya bisa ternganga. Bingung tak tahu harus berbuat apa. Duka pun menyelimuti dusun itu.

Sentra Tanaman Hias

Terkait peristiwa tragis itu, Bupati Karanganyar Rina Iriani, langsung turun tangan dan sibuk mengatur segalanya, mulai dapur umum sampai mencari logistik. Ribuan relawan juga bergantian menggali tanah merah yang menimbun permukiman penduduk di sana.

Saat ditemui wartawan, Rina mengatakan desa itu memang menjadi objek wisata tanaman hias.

Benarlah apa yang dikatakan orang soal jenmanii. Selain harganya yang menakjubkan, tumbuhan tropis dengan daya tarik pada daun itu, telah menopang perekonomin rakyat. "Dulu pendapatan per kapita hanya Rp 3 juta. Dengan melejitnya jenmanii, maka pendapatan per kapita mampu mencapai Rp 7 juta," ujarnya.

Dengan kejadian itu, jelas Dusun Mogol, Ledoksari, Tawangmangu yang dikenal sebagai salah satu sentra penjualan tanaman hias, harus berbenah dari awal.

Relokasi? Rina menggeleng. Meski jelas-jelas lokasi itu tidak lagi aman ditempati, tetapi apa daya, masyarakat tetap ingin terus hidup di lereng Gunung Lawu itu. [SP/Fuska Sani Evani]

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/12/28/Utama/ut02.htm

Pohon Duit Anthurium Rp 7 Miliar Musnah Ditelan Longsor

Jakarta - detikcom- 28/12/2007 ) Karanganyar dikenal sebagai sentra penghasil Anthurium Jemanii. 'Pohon duit' Anthurium yang harganya miliaran rupiah ini kini tertimbun longsor. Kerugian ditaksir hingga Rp 5-7 miliar.

Membudidayakan Anthurium menjadi profesi bagi warga di Dukuh Mogol, Ledoksari, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Warga di kawasan itu menjual aneka tanaman hias mahal itu.

Namun longsor pada Rabu 26 Desember 2007 kini telah mengubur tanaman bergengsi itu. Salah seorang warga, Wardi, koleksi Anthuriumnya pernah ditawar Rp 4 miliar. Tetapi tidak dilepasnya. Wardi dan Anthurium kesayangannya pun tidak luput menjadi korban longsor.

"Jika diuangkan itu kerugian dari Anthurium saja bisa mencapai Rp 5-7 miliar. Pak Wardi, korban longsor itu punya koleksi Anthurium yang luar biasa banyak. Bahkan pernah ditawar Rp 4 miliar," kata Bupati Karanganyar Rina Iriani kepada detikcom, Jumat (28/12/2007).

Menurut Rina, Anthurium telah menaikkan perekonomian warganya. "Income warga bisa mencapai Rp 3-7 juta/bulan," ujarnya.
( aan / nrl ) (Hestiana Dharmastuti)
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/28/time/100539/idnews/871921/idkanal/10

17 Desember 2007

Polesan Secantik Mung Mee Srisuk


trubus-online.com - Sabtu, 01 Desember 2007) Penampilan cochine berpaduan warna merah cerah dan hijau pekat milik Songgo Tjahaja, kolektor di Jakarta Barat, itu mempesona. Di dalam pot berdiameter 50 cm, sebatang indukan dikelilingi anakan-anakan hingga membentuk tajuk selebar 1 m. Yang istimewa, sosok tanaman sehat, ukuran daun seragam, dan warna cerah.

Lalu masih ingat pada mung mee srisuk? Aglaonema turunan cochinchinense itu meraih gelar terbaik di kontes tanaman hias Flora dan Fauna 2005. Sosoknya kompak, rimbun, dan warnanya merah pekat menarik. Penampilan dan prestasi yang terbilang spektakuler karena cochine dan turunannya sulit dirawat. Punya cochine prima patut diacungi jempol.

Lihatlah apa yang dialami Gunawan Widjaja di Sentul, Bogor. Aglaonema turunan cochine miliknya mati lantaran busuk. Mula-mula daun menguning, lalu mengering satu per satu. Usut punya usut ternyata media yang digunakan terlalu lembap. Pemilik nurseri Wijaya Orchids itu menggunakan cocopeat sebagai salah satu campuran media.

Sifat cocopeat mengikat air. Padahal, anggota famili Araceae itu menyukai media porous, kering, dan cenderung basa. Maklum, di habitat asal-Myanmar, selatan Thailand, Kamboja, dan Vietnam Selatan-cochine hidup di antara semak-semak tandus atau di bawahnya. Kerabat anthurium itu tumbuh di daerah gersang berbatu dan bukit berkapur.

Pantas Gunawan lantas mengganti bahan media dengan pasir agar porous. Para hobiis sepakat, media kunci sukses merawat cochine agar prima. Di Semarang media yang dipakai campuran sekam bakar yang telah diayak dan pasir malang dengan perbandingan 4:1. Untuk menaikkan pH, ditambahkan kapur dolomit sebanyak 5% dari komposisi media.

Bila rata-rata aglaonema tumbuh maksimal pada pH 6-6,5, cochine dan turunannya tumbuh bagus pada pH 7-8. Pada kondisi itu pertumbuhan tanaman lebih cepat 2-3 kali lipat. Media basa juga membuat warna daun lebih cerah.

Husny Bahasuan di Surabaya menggunakan campuran media seperti di Semarang. Hanya saja perbandingannya berbeda, 3 bagian sekam bakar dan 1 bagian pasir malang. Menurut pemilik perusahaan sarung BHS-Tex itu, cochine dan hibridanya lebih rentan serangan penyakit karena ringkih. Jika media terlalu basah, cendawan datang menyerang akar. Akar busuk dan tanaman mati.

Akar besar

Sifat cochine mirip Caladium sp. Bila media asam dan lingkungan tidak menguntungkan ia dorman atau berhenti tumbuh. Kalau biasanya setiap bulan muncul 1 daun, bisa-bisa dalam 2 bulan tak ada daun muncul.

Cochine dan turunannya memiliki akar besar yang berfungsi menyimpan air dan cadangan makanan. Maklum, ia hidup di daerah bebatuan. Oleh karena itu, menurut Greg Hambali, penyilang aglaonema di Bogor, frekuensi penyiraman sri rejeki itu jangan terlalu sering. Frekuensi cukup 2-3 hari sekali hingga media basah.

Cochine lebih menyukai sinar matahari dibandingkan jenis lain. Karenanya letakkan chinese evergreen itu di tempat yang lebih terang. Bila sri rejeki lain diletakkan di bawah jaring peneduh 60-70%, maka cochine dan hibridanya, 40-50%. Itu berlaku buat hibrida cochine hijau yang senang panas. Sedangkan turunan cochine yang berwarna merah membutuhkan naungan 75%. Selain itu sirkulasi udara harus lancar dan lebih kering.

Agar penampilan dan pertumbuhan tanaman lebih maksimal, berikan pupuk lengkap mengandung unsur mikro satu minggu sekali. Contohnya, Vitabloom, Kristalon, Gandasil, atau Growmore. Dosisnya 1-2 g/l air. Untuk mencerahkan warna daun, berikan pupuk dengan mengutamakan unsur mikro seperti Fe, Mg, Mn, dan Zn. Dengan perawatan yang tepat cochine dan turunannya tampil prima seperti mung mee srisuk. (Rosy Nur Apriyanti)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=122

Ragam Cara Cegah Pencurian Anthurium PASANG KAMERA, ALARM, SAMPAI ANJING PENGAMAN

Ragam Cara Cegah Pencurian Anthurium
PASANG KAMERA, ALARM, SAMPAI ANJING PENGAMAN

Tabloidnova.com) Seiring dengan kepopulerannya, laporan pencurian jenis tanaman hias ini semakin banyak diterima petugas kepolisian. Lalu, apa langkah pengamanan si pemilik tanaman yang harganya jutaan itu.

KLIK - Detail Berbagai media massa sejak awal tahun ini memberitakan beberapa kejadian pencurian anthurium dari berbagai jenis. Selain jenis anthurium, tanaman mahal lain yang juga jadi incaran tangan jahil pencuri adalah adenium. Tak hanya di Jakarta, kasus pencurian ini pun marak terjadi di daerah lain seperti Sleman (DIY), Sragen (Jateng), Surabaya (Jatim) bahkan Balikpapan (Kaltim).

Salah satu pencurian anthurium terjadi di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (27/10) silam. Ketika dihubungi, Kamis (15/11) Kanitreskrim Polsek Kebon Jeruk, Iptu. Yustianto membenarkan kasus ini. “Sekarang kasusnya sudah kami limpahkan ke Polres Jakarta Barat,” tuturnya.

Dua tersangka SR (25) dan HR (14)sudah diamankan petugas. Ketika itu, mereka tertangkap basah sedang mencuri empat tanaman hias anthurium seharga Rp 8 juta. Keduanya mengaku mencuri karena ada pesanan dari seseorang yang bersedia membeli satu tanaman anthurium curiannya itu Rp 400.000. Padahal, harga tanaman itu dibeli pemiliknya dengan harga Rp 2 juta.

Para tersangka mengaku tergiur karena barang curiannya cepat terjual. Itu sebabnya, mereka tampak benar-benar menyusun strategi sebelum menjalankan aksinya. Misalnya saja SR dan HR. Tindakannya saat menjalankan aksi sungguh tak biasa. Ia merasa tak sanggup melewari pagar kawat berduri yang dipasang si pemilik rumah. Tak kurang akal, ”Saya membuat lubang seukuran badan di bawah pagar,” aku SR.

KLIK - Detail Beruntung ada warga sekitar memergoki perbuatan SR dan segera memanggil warga lainnya untuk mengamankan SR dan HR. Kini keduanya meringkuk di sel Polres Jakarta Barat. Nah, seiring maraknya pencurian tanaman mahal ini, si pemilik juga menyusun cara untuk menangkalnya.

BEBERAPA KALI KECURIAN
Sejak booming anthurium tiga tahun lalu, nursery bernama toekang keboen di kawasan Serpong sudah mulai menjual jenis tanaman berdaun besar ini. Demi memuaskan pelanggannya, beberapa jenis harus didatangkan dari Thailand. Tak heran, harga yang ditawarkan bisa mencapai puluhan atau ratusan juta rupiah.

Berbicara masalah pencurian tanaman, Andi Wijaya, pemilik nursery bernama toekangkeboen ini mengaku beberapa kali menjadi korban. “Sejak aglonema naik daun, kami sudah pernah kehilangan beberapa koleksi. Ketika harga anthurium mahal, saya juga pernah kecurian. Sepertinya pencuri juga mengikuti tren tanaman hias,” aku Andi sambil tertawa.

Sekitar 2004 lalu, Andi mengaku rugi sampai ratusan juta rupiah. Kala itu, adenium mahal koleksinya digondol maling. “Seluruh tanaman yang ada di ruangan itu habis. Dari situ saya belajar untuk meningkatkan keamanan,” ucapnya.

Sejak itu, semakin hari keamanan usahanya semakin ditingkatkan. “Enggak cukup hanya dikunci dan dipasang tralis besi. Supaya aman, tetap harus ada yang menjaga setiap malam. Untuk itu, kami mempunyai dua orang petugas keamanan,” ujar pria yang pernah menjual satu pot anthurium supernova seharga Rp 175 juta.


Rupanya, cara ini masih belum cukup. Yang terbaru, Andi memasang alarm di sekitar koleksi anthuriumnya. “Dan ternyata itu sangat membantu. Buktinya, baru beberapa hari lalu alarm itu menggagalkan pencurian di toko kami. Kejadiannya malam hari. Pencuri berusaha masuk melompat pagar,” ungkapnya.

KLIK - Detail Belum sampai lokasi koleksi anthurium, gerakan sang pencuri terdeteksi oleh alarm yang dipasang Andi. “Langsung heboh karena alarm bunyi meraung-raung. Sayangnya pencuri berhasil melarikan diri. Kami hanya menemukan sandal dan karung. Pemasangan alarm yang saya lakukan ternyata sampai sekarang terbukti ampuh,” ucap Andi sambil tersenyum.

Ditambahkan Andi, setiap pedagang dan pemilik anthurium pasti sudah mempunyai cara tersendiri dalam mengamankan koleksinya. Masih ada satu lagi cara Andi mengamankan tanaman mahalnya. “Selain menyewa dua orang keamanan khusus malam, karyawan saya juga tidur di sini.”

KEAMANAN BERLAPIS

Seperti Andi, Chandra Gunawan Hendarto, pemilik Godongijo Nursery juga punya pengalaman buruk. Tahun lalu, 60 pot sekaligus, digasak pencuri. Kalau dihitung, “Total kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah. Kami sempat menyebar foto tanaman yang dicuri. Saat itu, kan, jumlah anthurium belum begitu banyak. Tapi, sampai saat ini belum ada informasi keberadaannya,” kisah Chandra.

Nursery yang terletak di Serua, Cinangka, Sawangan, Kotamadya Depok itu ada beberapa green house. Selain itu, di sana juga ada beberapa fasilitas berupa salon tanaman, kids room atau tempat mainan anak-anak, tempat penjualan sarana produksi pertanian, klinik tanaman hias, perpustakaan, toko buku pertanian, tempat parkir, serta areal cafe dan restoran. Untuk menjamin keamanan semua koleksi berbagai jenis tanaman hias yang tersebar di atas lahan 2,5 hektar miliknya, Chandra menerapkan beberapa sistem keamanan.

KLIK - Detail Pertama, “Kami membangun pagar beton di sekeliling kebun dan di atasnya kami beri kawat berduri. Lalu, kami perlu juga beberapa tenaga keamanan,” cetusnya. Di tempat yang luas itu, jelas Chandra, pengawasan petugas keamanan pastilah sangat terbatas. Masih ada lagi yang dilakukan Chandra yaitu melepas 20 anjing di sekitar kebun.

Anjing-anjing itu tak bertugas sepanjang waktu. “Malam hari adalah waktu anjing-anjing ini bertugas. Dua orang petugas keamanan khusus pun berkeliling setiap malam. Kalau siang enggak perlu, kan banyak orang di sini,” ujar pria yang sudah sembilan tahun berkiprah di bidang tanaman hias ini.

“Anjing sangat baik untuk keamanan, ada suara sedikit saja pasti mereka akan menggonggong. Agar semakin efektif, anjing kami bagi di lima area kebun yang dipisahkan dengan pagar kawat supaya mereka enggak mengumpul di satu lokasi,” terang Chandra yang memiliki banyak tanaman mahal. Ia juga punya 200 jenis varietas yang berbeda dari adenium dan beberapa jenis aglonema.

Untuk lebih memantapkan sistem keamanan, Chandra juga memasang delapan unit kamera keamanan yang tersebar di beberapa titik. Memang Chandra patut merasa cemas dengan keamanan koleksinya. Pasalnya, “Harga satu pot anthurium termahal yang ada di ruang pamer berkisar Rp 30 – 40 juta. Sebenarnya saya punya lebih banyak dari yang ada di ruang pamer, semuanya saya taruh di kebun lain yang jaraknya sekitar 10 menit dari sini,” ucapnya.

Agar keamanan semakin terjamin, ruang pamer koleksi anthurium dan aglonema yang ada di kompleks nursery itu selalu terkunci setiap saat. Pintu masuk hanya terbuka jika ada calon pembeli yang hendak melihat koleksinya. Dengan cara ini, Chandra berharap maling tak bakal mampir ke tempat usahanya.
http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=15196

Anthurium Primadona bagi Kalangan Pencuri

Kedaulatan rakyat - 07/12/2007) SEPANJANG tahun 2007, mungkin tahunnya tanaman hias Anthurium terutama jenis jenmanii. Harganya yang melambung tinggi, membuat tanaman yang aslinya berasal dari hutan Amazon menjadi 'magnet' bagi para pencuri mengalihkan sasarannya. Mungkin di kalangan pelaku kejahatan berpendapat daripada menggasak sepeda motor, lebih baik menyikat Anthurium. Sebab selain mudah dicuri, tanaman hias berbagai jenis ini harga jualnya melebihi motor 'bodong' dan cepat laku.

Sebab Anthurium terutama Jenmanii spesies tertentu misalnya, jenis Cobra, Raja Cobra, Anaconda, Phyton dan Mangkok dengan beberapa helai daun saja harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Belum lagi, anthurium dengan warna tangkai dan ruas daun warna hitam dan merah seperti Garuda Hitam, Garuda Merah, Hockery Merah dan Hockery Hitam. Tak mengherankan jika para penggemar dan pemilik tanaman hias ini ketar-ketir, sebab hampir di seluruh daerah seperti Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Solo, Wonosari, Sleman, Kota Yogya, Salatiga, Ambarawa dan kota-kota lain, hampir tiap hari terjadi pencurian tanaman hias tersebut. Yang meresahkan, sasarannya tidak hanya untuk tanaman yang telah berumur dan memiliki harga ratusan juta rupiah, Anthurium yang masih bibit yang harganya puluhan ribu rupiah-pun disikat.

Memang, bermain tanaman Anthurium, tak bedanya dengan uang valas, yang perubahannya terjadi sangat cepat di setiap saat. Contoh saja, untuk bibit gelombang cinta jenis Giant, dengan daun yang berjumlah 4 hingga 5 helai, paling murah Rp 20 ribu. Tergantung siapa yang butuh dan membeli. Begitu pula untuk Hockery, tunas yang baru tumbuh dihargai puluhan ribu rupiah. Sedangkan untuk jenmanii, dihargai perdaun Rp 100.000 - Rp 150.000. Ketika sudah menjadi tumbuhan, harganya menjadi lebih gila lagi.

Untuk jenis jenmanii, ada yang laku mencapai ratusan juta rupiah. Dalam kondisi seperti inilah, tak mengherankan jika aksi pencurian Anthurium menjadi makin marak dan nekat. Pelakunya pun tak main-main, mulai dari para penjahat dan bahkan orang baik-baik yang memiliki gemerlap harta benda, termasuk juga aparat penegak hukum yang seharusnya memerangi kejahatan. Motif utamanya adalah mengejar keuntungan ekonomi dan juga gengsi. Kasus tertangkapnya sindikat pencuri gelombang cinta di Sragen baru-baru ini menumbuhkan dugaan, di balik pencurian anthurium ini ada sosok yang memang memiliki duit dan sudah menjadi sebuah sindikasi yang memiliki jaringan luas. Di wilayah Godean Sleman, Anthurium milik seorang pejabat di Pemkab Sleman yang telah ditawar dengan harga Rp 120 juta, amblas disikat maling. Padahal rumah pejabat tersebut, telah dipagar dengan tembok yang cukup tinggi.

Di Sragen, korban pencurian Wakil Bupati Sragen Agus Fatchurrahman SH. Bunga hias gelombang cinta jenis rafflesia senilai ratusan juta rupiah diembat maling pada dini hari milik wabup dilaporkan telah dibedhol maling. Sedangkan di Sukoharjo, modus operandi pencurian Anthurium bermacam-macam. Seperti pura-pura melihat-lihat tanaman, pura-pura mau beli tapi buntutnya ngembat tanaman 'cikru' dengan cara mencabut dari pot dan lantas memasukkan ke dalam jaket. Modus lainnya dengan cara merusak gembok pintu pagar nursery. Tidak sedikit pelaku yang berhasil membawa kabur tanaman sehingga si pemilik Anthurium hanya 'ngelus dada'.

Para penggemar Anthurium-pun geram dengan ulah para pencoleng itu. Sehingga jika ada pelaku yang tertangkap pasti dihajar massa terlebih dahulu sebelum diserahkan ke polisi. Hal inilah yang dialami Ari Budianto warga Cluringan yang tertangkap basah 'nyolong' puluhan Gelombang Cinta milik korban Sumanto (47) di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo. Tak hanya itu, Yd (23) warga Panembahan Yogya menghembuskan napas terakhirnya di tangan massa saat berusaha 'memetik' 17 Anthurium di rumah Lukman Khusadi (49) perwira TNI AD di Dusun Rukeman Tamantirto Kasihan Bantul, Senin (12/11).

Saat itu Yd beraksi bersama Mln (27) warga Serangan Ngampilan Yogya. Meski demikian, 'pelajaran berharga' itu tak dipikirkan oleh pelaku lainnya. Mereka tetap mengintai Anthurium sambil menunggu pemiliknya lengah. Maraknya pencurian Anthurium menjadikan beberapa kolektor tanaman hias melakukan langkah preventif. Hal itu seperti dilakukan oleh H Danar Rahmanto. Pemilik Sekar Ijo Nurshery yang terletak di Ngadirojo, Wonogiri. Danar mempercayakan keamanan kios tanaman hiasnya kepada orang yang betul-betul bisa dipercaya. "Selain itu kami juga punya komitmen tetangga lingkungan rumah terdekat jangan sampai diabaikan,” ujar dia sembari menyebutkan jika kita ingin 'diuwongke uwong' maka ya harus mau 'nguwongke uwong'.

Maraknya aksi pencurian tanaman hias ini juga sempat membuat geram Kapolres Karanganyar AKBP Rikwanto. "Kami mengimbau kepada semua kapolsek untuk mewaspadai kejahatan curjem. Jika perlu ambil tindakan keras untuk pelakunya," tegasnya. Diakui antisipasi ini perlu dilakukan di tahun depan, sebab selama tahun 2007 di Karanganyar maraknya aksi pencurian tanaman hias diikuti dengan turunnya angka kejahatan konvensional misalnya pencurian kendaraan bermotor (curanmor). q - m.
http://www.koranmerapi.com/web/detail.php?sid=144865&actmenu=39

PERBANYAK AGLAONEMA DENGAN CARA PENGGAL PUCUK

Langitlangit.com Senin, 30-April-2007) Sosok aglaonema Snow White itu mempesona. Sepuluh daun hijau bertabur bercak putih membuatnya kompak. Namun, dengan pisau tajam, kres... tangan kanan Prapanpong Tangpit memotong batang si putih salju menjadi 2 bagian. Batang yang tumbuh di pot terdiri atas 4 daun; batang terpotong, 6 daun.

Prapanpong Tangpit bukan sedang meluapkan marahnya. Memang begitulah cara dia memperbanyak aglaonema. Di depan rumahnya, di bilangan Khet Thawi Watthana, Bangkok, Thailand, menghampar 3.000 aglaonema. Semuanya diperbanyak dengan pemenggalan pucuk. Dengan teknik potong pucuk, At-sapaannya-menghasilkan minimal 5 anakan per tanaman setahun. Bandingkan dengan cara konvensional, cuma 2-3 anakan per tahun.

Pemotongan pucuk, merangsang induk mengeluarkan tunas baru. 'Dari satu bonggol keluar 2-3 anakan,' ujar At. Selang 5- 6 bulan, anakan aglaonema itu dipisahkan dari induk. Setelah dirawat 1-2 bulan atau keluar akar baru, kerabat anthurium itu siap jual. Itu baru anakan dari bonggol, belum dari batang hasil pemotongan. Potongan pucuk menghasilkan sekitar 2-3 anakan dan dapat dipanen setelah berdaun 5-7 helai. Jadi anakan diperoleh dari 2 tanaman, induk dan pucuk yang dipotong.

Sehat
Karena hasilnya spektakuler, sistem potong pucuk pun ditiru pekebun di Indonesia. Sebut saja Ukay Saputra di Jakarta. Pemilik Anisa Flora nurseri itu mengadopsi teknik itu sejak akhir 2005. Penggal pucuk dapat diterapkan untuk semua jenis aglaonema, tak hanya snow white. Itu yang Trubus saksikan di kebun produksi milik Ukay di Sawangan, Depok. Di lahan 3.000 m2, pria setengah baya itu memenggal heng-heng, legacy, venus, dan pride of sumatera.

Nun di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja pun melakukan hal sama. Itu terlihat dari puluhan pot di atas rak setinggi 1 m yang sekilas hanya berisi media tanpa tanaman. Begitu didekati, 2-4 tunas berbentuk jarum muncul ke permukaan. Itulah bonggol-bonggol tanaman induk yang telah dipotong pucuknya. Sedangkan pucuk yang telah dipisahkan, diletakkan di bawah rak.

Agar hasil maksimal, pilih aglaonema dewasa terdiri atas 8-10 daun. Kondisinya sehat: daun segar, kokoh, dan daun muda tak mengecil. Tanaman berakar kuat, putih, gemuk, dan tak busuk. Bila syarat itu terpenuhi, lakukan potong pucuk.

Sebelum pemenggalan, Ukay dan Gunawan memberikan perlakuan khusus. Ukay membenamkan batang aglaonema lebih dalam di pot. Biasanya, panjang batang sri rejeki yang ditanam hanya 5-7 cm yang terendam media. Sebelum dipotong, panjang batang yang tertutup media jadi 8-10 cm. 'Prinsipnya seperti cangkok, sehingga akar terangsang keluar,' ujarnya. Selain itu, sri rejeki diberi pupuk lambat urai berkomposisi seimbang setiap 3 atau 6 bulan. Penyemprotan hara mikro setiap satu bulan. Untuk mempercepat akar muncul, Ukay memberikan vitamin B1 seminggu sekali.

Sedangkan Gunawan meningkatkan frekuensi pemupukan 2-3 minggu sebelum pemotongan. Biasanya pemupukan setiap satu minggu dengan pupuk seimbang berkonsentrasi 2 cc/l air. Sebelum dipenggal, ditingkatkan jadi 2 kali seminggu dengan konsentrasi sama. Tujuannya, meningkatkan jumlah makanan di akar sebelum dipotong. Ketika pucuk dipenggal, makanan dari akar tak lagi didistribusikan ke daun sehingga memacu keluarnya tunas di batang.

Potong
Kini saatnya aglaonema dipenggal. Korek media hingga terlihat akar. Sebaiknya pucuk yang akan dipotong memiliki 3 akar untuk mencegah kematian. Potong batang sri rejeki itu dengan menyisakan minimal 1 daun pada tanaman induk. Tujuannya, agar kerabat keladi itu masih bisa berfotosintesis untuk menghasilkan makanan. 'Dengan demikian tunas baru yang muncul berdaun besar,' ujar Gunawan. Pemotongan tanpa membongkar media. Artinya aglaonema tak perlu dikeluarkan dari pot agar tidak stres.

Olesi aglaonema terpotong dengan antiseptik atau obat penutup luka. Gunawan memberikan campuran bahan-bahan yang biasa dipakai untuk menyirih. Seperti campuran pinang, kapur sirih, dan gambir yang dihaluskan. Oleskan obat itu di atas luka. Setelah kering angin-sekitar 5 menit-tanam sri rejeki bagian atas dalam media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam. Perbandingannya, 5 : 2 : 2 : 1. Siram potongan pucuk, sedangkan induk 3 hari kemudian untuk menghindari busuk batang.

Alternatif lain, rendam pucuk aglonema dalam larutan hormon, bakterisida, dan fungisida selama 0,5 jam seperti dilakukan Ukay. Lalu tanam sri rejeki itu dalam media campuran sekam bakar, cocopeat, pasir malang, dan dolomit dengan perbandingan 70 : 12,5 : 12,5 : 5. 'Dolomit berfungsi untuk menetralisir pH,' kata Ukay. Selanjutnya siram anggota famili Araceae itu dengan air rendaman sebelumnya.

Letakkan pucuk aglaonema yang memiliki ketahanan tinggi, seperti snow white dan pride of sumatera, di bawah jaring peneduh 65% sebanyak 2 lapis. Sementara jenis yang agak ringkih, seperti legacy dan venus, taruh di bawah jaring dan plastik UV agar terhindar dari hujan.

Untuk merangsang tunas pada bonggol bawah, Ukay menyemprotkan campuran auksin dan sitokinin murni satu minggu sekali. Pemberian cukup 2 kali. Selang 1 bulan, 2-3 tunas muncul dan bisa dipisahkan setelah berdaun 5 helai atau 6 bulan kemudian. Aglonema pun siap jual 1 bulan kemudian. Cepat dan banyak bukan? (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Evy Syriefa)


Langkah2 Pemotongan:
1. Siapkan pisau dan alat pengorek
2. Aglonema dalam kondisi sehat terlihat dari akar yang putih dan gendut
3. Korek media untuk melihat akar
4. Potong batang aglaonema dan sisakan minimal satu daun pada bonggol
5. Oleskan obat penutup luka, seperti betadine atau campuran bahan menyirih pada luka pucuk dan induk
6. Tanam pucuk aglaonema di media campuran pasir malang, humus andam, pakis, dan sekam dengan perbandingan 5: 2:2:1
7. Siram aglaonema lalu letakkan di tempat ternaungi
8. Tunas muncul 1 bulan kemudian

(Dikutip dari majalah TRUBUS 440, dari judul asli: "Demi Anakan, Penggal Leher Ratu")
http://langitlangit.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=53

TANAMAN HIAS SUDAH MENJADI GAYA HIDUP KELAS MENENGAH KE ATAS?

langitlangit.com - Kamis, 29-Nopember-2007) Dunia tanaman hias di Indonesia sungguh bergairah, ini tercermin dari kegiatan pameran yang begitu sering sampai di kota-kota kecil seperti Bantul, Muntilan, Tomohon. Pameran, fiesta, expo atau parade tanaman hias makin kerap digelar di bangunan mal di kota besar. Ajang tanaman hias juga mengambil tempat di kampus dan sekolah. Sejauh ini yang paling baik adalah acara tahunan Flora Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta.

Tanaman hias sudah menjadi ciri dari gaya hidup masyarakat kelas menengah dan atas. Di kota-kota besar, warga yang tinggal di perumahan maupun apartemen, dan bekerja di gedung perkantoran punya pemandangan hijau di sekitarnya yang dipancarkan oleh tropical green leaf, tanaman hias tropis. Tanaman hias adalah ornamen kehidupan sehari-hari manusia. Ia menjadi peneduh temperatur alam maupun jiwa. Menjadi peredam kebisingan, penghalang angin, pelengkap arsitektur, kreasi seni, menjadi hantaran. Di Amerika, gardening adalah kegiatan waktu luang paling populer.

Di banyak negara, ribuan jenis pepohonan, besar dan kecil, tanaman hias, bunga-bunga, sampai pun pada rumput yang bergoyang, menjadi andalan bisnis besar pariwisata yang dikemas dengan beragam tema. Ada botanical gardens, historic gardens, national parks. Atau tulip festivals, rainforests walk dan lain-lain. Singapura yang berhutan beton, toh bisa menjual tropical forest, Belanda yang “negeri secuil”, punya Keukenhof yang dicintai dunia.

Di Indonesia (imbasnya bisa sampai ke Thailand) belakangan ini, para juragan bunga dan tanaman pot, serta kolektor tanaman eksotis, tengah terserang mabuk asmara. Bukan oleh makin berkobarnya gairah cinta puspa, hobi atau koleksi, tapi oleh nafsu investasi dan spekulasi, untuk meraup gain melalui pencitraan, branding, adu gengsi, desas-desus, dan kalau perlu pengelabuan. Mendadak mewabah “demam anthurium”. Mendadak orang bisa beli mobil berkat anthurium. Mendadak pengusaha mengubah nurserinya, yang tadinya anggrek, ke anthurium. Ini sebenarnya bagian dari permainan pemburu rente dan pemegang uang panas, yang tiada passion samasekali terhadap tanaman.

Kita jangan terkesima oleh dadakan seperti itu, yang memang konsekuensi dari trend-setting yang bisa dibikin-bikin setiap musim, kendati untuk anthurium agak liar juntrungannya. Namun ada baiknya kita mengambil hikmah dari test-case si raja daun ini, yakni selera akan tanaman hias semakin meluas, dan dengan nilai yang semakin membubung pula. Dengan itu pula kita menarik agribisnis ini dengan derap yang lebih konsisten, strategis, berlanjut. Sebenarnya, tanpa disadari strategi “desa kepung kota” telah terbangun di sini. Petani atau pekebun bergiat di desa-desa dan secara berkala masuk ke kota dan menduduki alun-alun atau balairung, memamerkan hasil bumi mereka.

Kini juga semakin banyak kios tanaman hias di pusat-pusat perbelanjaan kota. Kita pun kerap melihat ibu-ibu atau bapak-bapak memarkir sedan di tepi jalan untuk mendatangi lapak dagangan tanaman hias. Pameran dan pengembangan nurseri sudah saling mengisi untuk menanggapi pasar tanaman hias yang makin membesar. Untuk membuat pasar lebih kumandang, pameran harus lebih sering digelar. Baiknya para pemangku kepentingannya duduk bersama menyusun agenda yang terangkai dan merata, dari suatu pameran ke pameran lainnya, dari suatu daerah ke daerah lainnya. Rangkaian itu rapat dan penuh untuk sepanjang tahun.

Juga setiap provinsi, kabupaten atau kota dibangkitkan kebanggaan dan semangat juangnya melalui penetapan bunga atau tanaman khas setempat sebagai floral emblem/ bunga resmi. RI sendiri, bertepatan dengan Hari Lingkungan 5 Juni 1990, mengadopsi sampai tiga bunga sebagai bunga Negara (state flower), yakni: Melati (Jasmine-Jasminum sambac), Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), dan Rafflesia (Rafflesia arnoldi). Harap diketahui bunga nasional Amerika Serikat, yakni mawar, ditetapkan melalui undang-undang oleh Kongres.

Anjuran penting lainnya, Indonesia perlu memiliki taman nasional bunga. Kita punya botanical garden, taman safari, taman margasatwa, taman nasional, taman laut, hutan raya. Harus pula dibangun taman raya khusus bunga dan tanaman hias tropis, satu di Indonesia bagian barat, satunya lagi di Indonesia bagian timur.

Daud Sinjal/ Tajuk Agrina 23 November 2007. Judul asli: Tanaman Hias, Ornamen Kehidupan Manusia
http://langitlangit.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=111