17 Desember 2007

ANTHURIUM, KINI SAATNYA HARUS BERHATI-HATI

Langitlangit.com - Kamis, 29-Nopember-2007) Hati-hati! Itulah sikap yang harus diingat oleh mereka yang akan terjun ke bisnis anthurium yang sekarang sedang hangat-hangatnya. Musababnya, banyak penggelembungan harga yang terjadi. Banyak hal yang digelembungkan. Peluang pasarnya pun semu.

Teman saya seorang pemain anthurium sejak lama. Ia menjual 9 tanaman induk Anthurium jenmanii dengan nilai total Rp250-juta. Namun, kabar yang diembuskan oleh pihak lain, transaksi yang terjadi mencapai Rp975-juta. Menurut saya ini strategi kotor untuk menjebak orang supaya tertarik berinvestasi di bisnis anthurium. Padahal kalau seperti itu, ini adalah investasi yang didasarkan kebohongan.

Saya mengakui, anthurium memang cantik. Dia hanya hijau, tapi bila sosoknya rimbun sangat menarik. Di negara-negara Eropa tanaman diminati, terutama untuk mengisi kekosongan tanaman selama musim dingin. Namun, mereka pun tak sampai terlalu menggebu-gebu untuk mengusahakannya. Musababnya, anthurium daun membutuhkan ruang yang luas.

Yang lebih populer di sana justru anthurium bunga. Bunga ekor itu dengan mudah diproduksi massal. Ukurannya kecil sehingga cocok dipakai sebagai potplant di meja. Dengan produksi massal, harganya pun bisa ditekan. Lantaran biaya produksi di sana tinggi, maka para pekebun sangat memperhitungkan masa penanaman-cropping time. Kalau yang membutuhkan waktu penanaman lama, itu tidak menarik untuk investasi mereka.

Bandingkan dengan kondisi yang kini tengah berkembang di tanahair. Di mana-mana orang mengusahakan anthurium. Untuk mendapatkan tanaman dewasa mesti dirawat tahunan. Untuk memindah-mindahkannya pun harus digotong 2-3 orang. Saat ini harganya pun sudah tidak wajar. Bayangkan saja biji jenmanii kobra harganya mencapai Rp400.000. Orang berani membeli. Padahal, dari biji peluang mendapatkan tanaman yang sama dengan induknya sangat kecil. Teman saya yang pemain lama tadi saja dari 200 biji jenmanii kobra yang disemai, hanya mendapat 2 tanaman yang mirip induknya.

Orang-orang yang mau membeli dari biji itu tidak mengerti ilmu genetika. Mereka pikir bisa mencetak anthurium seperti mencetak kue di pabrik yang hasilnya pasti sama. Mereka yang berani beli induk bertongkol supaya bisa menjual biji atau anakan-anakannya sebetulnya orang-orang yang terkecoh atau mau mengecoh orang lain. Secara alami, tidak mungkin mendapatkan anakan yang persis sama dengan induknya. Hasilnya pasti beda, variasinya sangat tinggi. Kecuali tanaman yang bersifat apomiksis. Artinya tanaman yang penyilangannya tidak membutuhkan bantuan tangan manusia, tapi hasilnya sama dengan induk. Contohnya salak bali dan aglaonema tricolor. Pada anthurium, belum pernah ada laporan yang menyebutnya bersifat apomiksis.

Jadi, orang yang membeli tongkol itu seperti berjudi. Namun, sekarang orang tidak peduli, yang penting nanti bisa menjual lagi pada orang lain. Begitu seterusnya. Nanti kalau tanaman sudah besar, baru ketahuan penampilannya berbeda dengan indukan. Hanya saja karena yang sekarang bergerak adalah pedagang, bukan grower, maka mereka tidak merasa perlu untuk membuktikan itu asli atau tidak. Kriteria tentang varian anthurium tertentu pun tidak pernah jelas.

Kasus vanili
Waktu saya bertemu dengan pemain tanaman hias dari India, ia bercerita tentang kasus vanili di sana yang mirip seperti anthurium di tanahair saat ini. Para pekebun diajak untuk menanam vanili. Pada panen pertama, hasilnya dibeli dengan harga tinggi. Akibatnya yang lain jadi ikut tertarik untuk menanamkan investasi. Namun, begitu panen besar, pihak pabrik tidak mau membeli. Banyak yang panik sehingga mau saja menjual dengan harga rendah. Harga pun segera anjlok.

Di sini yang panen adalah orang-orang berduit yang membutuhkan barang itu dengan mengajak orang lain untuk berinvestasi. Pada akhirnya mereka yang menikmati ketersediaan barang yang banyak dengan harga rendah. Kejadian serupa pada kasus tulip hitam yang membuat banyak orang di Belanda kecele.

Pada kasus tanaman hias di tanahair, ini bisa saja terjadi. Sebelum anthurium meledak, aglaonema juga sempat jadi fenomena. Namun, pada kasus aglaonema orang tidak bisa dengan cepat menghasilkan jenis baru dalam jumlah sebanyakbanyaknya. Untuk menghasilkan jenis baru dibutuhkan proses pemuliaan minimal selama 5 tahun. Itu pun sulit.

Ketika ada jenis baru yang spektakuler dan harganya tinggi, pembelinya adalah end user yang menikmati kecantikan tanaman. Kalau kemudian selama dirawat ada anakan muncul, lalu dipisahkan dan bisa dijual, itu lain ceritanya. Si pemilik masih punya indukan yang sama, tapi juga mendapat uang untuk mendapat koleksi baru.

Taktik dagang
Pada anthurium, proses penyilangan untuk menghasilkan varian baru sangat gampang. Namun, tongkol yang banyak, jumlah biji dalam tongkol yang banyak, tidak menjamin didapat anakan yang sama persis dengan indukan. Kalau ini dibiarkan, bisa menyebabkan trauma. Ini berbahaya karena dampaknya bisa luas. Bisa jadi mereka-mereka yang merasa tertipu nantinya menjadi antipati dengan semua jenis tanaman hias. Kalau ternyata ada yang benar-benar bagus, tidak akan dilirik karena pasar sudah kehilangan kepercayaan.

Kita bisa berkaca pada kasus palem raja pada 1990-an. Waktu itu disebutkan ada permintaan ratusan ribu tanaman dari luar negeri. Yang diminta palem yang benar-benar bagus dengan spesifikasi tertentu. Itu diiming-imingi dengan harga tinggi. Akibatnya di mana-mana orang menanam palem raja dengan harapan bisa mendapat untung.

Mereka tidak pernah benar-benar mengecek kebenaran informasi yang ada. Hasilnya ternyata memang banyak yang tertipu. Tidak ada permintaan sebesar itu dari pembeli luar. Ketika akan dilempar ke pasar lokal juga jadi masalah. Palem raja membutuhkan ruang luas. Bila dijejerkan di boulevard pun tidak mungkin semuanya berisi palem raja. Pelepah daunnya yang keras bisa menyebabkan mobil ringsek kalau kejatuhan. Karenanya palem raja tidak mungkin ditanam berdekatan dengan keramaian atau kawasan pemukiman.

Maka seharusnya sekarang para peminat bisnis anthurium juga mesti mengecek informasi yang didengar. Misal saja dikatakan ada anthurium istimewa. Tanaman berukuran besar itu didatangkan dari mancanegara dengan harga Rp100-juta dan katanya kini ditawar Rp1-miliar. Kalau dikurskan, nilai belinya saja kira-kira US$12.000. Padahal di Hawaii yang salah satu sumber anthurium, jual-beli seharga US$1.000 saja sudah dianggap gila, baik yang jual maupun yang beli. Lagi-lagi ini mungkin taktik dagang untuk menaikkan pasar.

Bisnis sehat
Sebelum berinvestasi di bidang pertanian, khususnya tanaman hias, calon investor perlu tahu kriteria tanaman hias populer yang diakui secara internasional. Misal, tanaman itu mesti cantik penampilannya, tahan hama dan penyakit, tahan dalam kegiatan transportasi-artinya tidak gampang rusak di perjalanan, proses pemulihan pascaperjalanan mudah, serta gampang diusahakan komersial tanpa perlakuan berbelit.

Contoh nyatanya, phalaenopsis. Pengusahaan dan pemasaran anggrek bulan itu meluas ke berbagai penjuru dunia. Musababnya, phalaenopsis gampang diperlakukan. Di dalam sebuah industri besar, anggrek bulan dalam kondisi dewasa tinggal dimasukkan ke dalam ruangan dengan suhu rendah tertentu. Begitu usai perlakuan, pasti langsung berbunga. Ia pun tahan banting selama transportasi dan gampang pulih di tempat pembeli. Kasus serupa terjadi pada anthurium bunga.

Yang terjadi pada anthurium di tanahair, hanya ukuran tertentu yang laku. Di sini yang dicari adalah indukan dengan tongkol. Yang penting tongkol banyak, tidak peduli bentuk daunnya jelek. Selain indukan, anakan-anakan berukuran kecil laris manis. Padahal, satu dengan yang lainnya tidak dapat dibedakan. Di sini anthurium tidak dibeli berdasarkan keindahannya, tapi dengan perhitungan bisa segera dijual kembali.

Suatu bisnis yang bagus mesti didasarkan permintaan riil-actual demand. Barangnya cantik dan sampai ukuran tanaman besar orang masih mau memelihara karena masih ada manfaatnya. Kita bisa mendeteksi sehat tidaknya sebuah bisnis. Selain ada permintaan riil, komoditasnya pun harus yang benar-benar baru, unik, dan istimewa. Harganya terlalu fantastis justru bisa jadi indikasi adanya penipuan.

Sementara salah satu ciri pasar semu adalah perpindahan tangan antarpedagang. Ini tidak bisa dijadikan sandaran bisnis karena suatu saat pasar akan jenuh. Pada suatu titik tidak ada lagi konsumen akhir yang mau mengoleksi. Fenomena orang lebih memilih yang jelek tapi bertongkol daripada yang cantik tapi tidak bertongkol, itu juga salah satu ciri. Itu berarti orang lebih memilih berdasarkan hitung-hitungan bisnis. Harganya gila-gilaan pun berani.

Sikap cerdas
Pada akhirnya akan terjadi kelebihan pasokan, banyak orang yang merasa tertipu. Jangan sampai di ujung, yang terjerumus adalah orang-orang kecil yang memang menyandarkan diri pada bisnis ini. Mereka yang tidak mengerti bahwa dalam sebuah investasi itu memang harus ada cost yang dibayarkan. Sekarang semua bisnis tanaman hias sepertinya tersapu oleh anthurium. Padahal, semua tanaman hias punya potensi untuk diperjualbelikan.

Seharusnya suatu tren jangan sampai membuat bisnis lain mandek. Nantinya kalau komoditas lain diminati pasar, lagi-lagi kita tidak siap. Lagi-lagi harus mengimpor dari luar. Maka sebelum terjun ke bisnis tanaman hias, harus bisa menyikapi dengan cerdas. Latah boleh, tapi harus tahu kapan harus masuk dan kapan harus berhenti. Ibarat sedang mengantre untuk makan siang, kalau hidangan di atas meja masih banyak kita boleh ikut mengantre. Namun, kalau makanan tinggal sedikit sementara yang antre masih banyak, saatnya kita keluar dari barisan.

Bila disandingkan dengan anthurium, maka kini saatnya orang mulai harus berhati-hati. Lonceng kematian bisnis ini sudah semakin dekat berdentang. Indikasinya antara lain, mulai berpindah-pindahnya jenis anthurium yang dimainkan. Ketika tanaman-tanaman besar sudah habis stoknya, tidak ada lagi yang bisa dimainkan untuk menggerakkan pasar.***

*) Gregori Garnadi Hambali, pemulia tanaman, pakar botani, dan praktikus tanaman hias/ Dikutip dari TRUBUS EDISI OKT. 2007. JUDUL ASLI: "Belum Tentu Seindah Induk"
http://langitlangit.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=112

DEMAM ANTHURIUM, SEBUAH RENUNGAN

Langitlangit.com - Sabtu, 01-Desember-2007) Suatu siang yang panas saya bertemu dengan teman saya dia bercerita tentang tanamannya yang bernama anthurium. Jujur saja saya tidak pernah tertarik dengan tanaman. Sewaktu saya sekolah mata pelajaran yang paling tidak saya sukai adalah biologi dan kimia. Namun setelah dia bilang dengan anthuriumnya dia bisa dapat mendulang untung gede ratusan juta saya jadi tertarik untuk mengetahui apa sih anthurium itu? Apalagi saya baca di kompas dan Milis FPK banyak orang menyebut-nyebut anthurium. Dulu sih setahu saya kembang yang bagus adalah aglonema (seingat saya ya) dan adenium --mungkin sejenis umbi-umbian-- kalau tidak salah.

Kemudian teman saya itu mengajak main ke rumahnya dan dia memamerkan anthuriumnya yang bagi saya seperti daun jamu atau daun yang sering tumbuh di halaman rumah seorang ibu tua untuk digunakan sebagai tanaman obat. Dan bagi saya tidak ada yang indah dengan tanaman itu. Tidak seindah bunga matahari yang kuning cemerlang tumbuh di depan taman sebuah rumah mungil. Sebuah bunga yang selalu saya ingat kalau saya berangkat ke sekolah saat saya masih SD.

"Beneran nih bisa sampai ratusan juta?" kata saya sambil terus garuk-garuk kepala ngeliat tanaman yang bagi saya nggak ada bagus-bagusnya atau memang penggemar tanaman ini melihat dari sudut yang lain, sudut seorang pecinta tanaman. "Beneran, lo cek aja di internet atau lo baca majalah tanaman tuh majalahnya ada di meja" kata teman saya dengan mata penuh kemenangan. Teman saya langsung nyerocos. "Lo tau harga bibitnye aja bisa sampai puluhan ribu per biji, nih gue lagi bikin bibit" kata dia sambil nunjukin alat yang bentuknya aneh buat ngembangin bibit dan beberapa peralatan botani yang bagi saya bentuknya tidak menarik. Setelah lihat-lihat tanaman itu dan beberapa bentuknya saya ambil kesimpulan memang saya tidak tahu dimana cantiknya tanaman ini, tapi saya semangkin tahu dimana letak nilainya. Emosional Pasar! Itulah kesimpulan yang saya tarik dari pengamatan saya terhadap barang dagangan milik teman saya.

Sepulang dari rumah teman saya pikiran saya melayang jauh ke belakang. Sejak SMA saya memang suka bisnis, bisnis apa saja yang penting bisa jadi duit. Awal tahun 1990 saya main di bisnis ikan hias. Waktu itu yang lagi trend black molly, ikan mas koki baret kopassus, ikan slayer dan Oscar. Saya cari barangnya sampai bambu apus dan kadangkala mesan ke Tulung Agung. Lalu kalo udah dapat ikan itu diberi plastik dan digembungi oksigen malamnya kita kirim ke Bandung. Booming ikan hias kalo nggak salah sampai tahun 1994, sebelum saya akhirnya beralih ke saham BEJ tahun 1995.

Nah di tahun 1995-an saya juga masih ingat dengan demam Palem Raja. Dulu kabarnya ada pesanan besar-besaran palem raja dari perusahaan property di Amerika. Itu rumornya. Sampai-sampai teman saya jam tiga malam datang menemui saya dia cari tanaman palem raja. Tanaman Palem depan rumah saya dikiranya jenis Palem Raja, dengan panik dia nawari agar tanaman itu dibelinya saja, jelas saya nggak kasih. Besoknya saya baru tahu kalo tanaman depan rumah bukan jenis palem raja, saya pun tidak mau tahu jenis tanaman apa, karena saya paling pusing dengan biologi. Kalau nggak salah demam palem Raja cuman berlangsung selama enam bulan dan sempat harganya menggelembung sampai jauh ke ubun-ubun dan setengah nggak masuk akal. Dan kemudian waktu saya terus menyaksikan tren komoditas biologi dimana harga-harganya jadi tidak masuk akal seperti : Aglonema, Adenium, Lou Han sampai Arwana.

Sekedar catatan kalau Arwana saya masih menilai ikan ini memang memiliki nilai intrinsik tinggi, karena itu ada orang yang berani buat pabrik dengan scope bisnis jangka panjang, bahkan ada juga perusahaan itu yang sudah go publik di Pasar Modal. Beda dengan Arwana, nasib Lou Han mirip dengan nasib ikan Oskar, setelah tidak ada peminatnya Ikan Lou Han hanya bisa kita nikmati dalam pepesan Lou Han. Empat tahun lalu saya pernah diceritakan teman ada sebuah ikan lou han dengan gambar di badannya seperti angka 999 dihargai nyaris 1 milyar rupiah, benar atau tidak? saya tidak tahu. Tapi saya juga pernah lihat di majalah ada Lou Han dengan sisik berlafaz huruf arab yang berbunyi: Allah, dan saya kira memang ukiran warna sisiknya jelas sekali terlihat. Setidak-tidaknya dibanding Anthurium saya masih lebih bisa menyaksikan keindahan secara fisik pada ikan Lou Han.

Lalu apa yang terjadi dengan nilai Anthurium yang tidak masuk akal. Bagi saya harga komoditas yang sedang trend saat ini tidak ubahnya dengan skema Sponzi dalam bisnis investasi bodong atau seperti pasar modal di BEJ : Harga Saham Gorengan. Dalam skema Sponzi investasi bodong adalah menciptakan seolah-olah satu jenis investasi tertentu akan bernilai tinggi di masa yang akan datang, untuk itu pemilik bidang investasi itu menawarkan bunga yang tidak masuk akal, bisa 30% per bulan.

Ingat dengan kasus Alam Raya atau Perusahaan investasi iklan dari Jepang? Nah, yang masuk pertama kali adalah orang yang mendapat keuntungan darimana bunga keuntungan itu dibayarkan pada investor/ nasabah? Yah dari korban-korban yang masukbelakangan, jadi uang yang masuk tidak berputar dalam bisnis yang dijanjikan cuman berputar untuk menyediakan dana talangan bunga.

Bisnis penipuan seperti ini bisa menghasilkan untung gede maksimal 50% dari dana yang terkumpul. Kalau penipunya pandai ia bisa menetapkan titik henti untuk kabur dan membawa total dana yang terkumpul dari investor belakangan yang belum berkesempatan mendapatkan bunga. Hitung-hitungannya mudah. Tidak jauh berbeda dengan saham gorengan yang sering terjadi di Pasar Modal kita yang lembek aturan mainnya. Seperti kasus teranyar TMPI (Agis) kemarin waktu. Untuk merekayasa saham agar dikerek sampai tinggi, memiliki pola-pola yang bisa dikatakan menjadi modus gerakan gorengan:

Pertama kali adalah rumor pasar. Pada titik ini rumor pasar bukan merupakan penipuan karena pemain mahir pasar modal biasanya menaruh investasinya pada rumor, ketika rumor itu menjadi fakta dan muncul berita di koran-koran harga sudah terbentuk sempurna permasalahannya harga akan terkoreksi atau terus melambung.

Nah, rumor saham gorengan tidak akan pernah menjadi fakta, karena faktanya adalah sebelum tercipta rumor pelaku kejahatan gorengan biasanya membeli besar-besaran barang yang akan digoreng untuk bisa dimainkan. Biasanya market akan bergerak cepat ke atas tanpa ampun, gerakan market yang cepat ini kerap kali mengecoh pemain yang tidak memerlukan pikiran kritis untuk masuk, yang paling celaka adalah pemain yang terlambat masuk dan masih mengira bahwa rumor yang terjadi adalah beneran. Inilah yang terjadi pada saham TMPI banyak investor yang masuk di harga 3.000-an kemudian menjual sahamnya jauh dibawah harga beli dan teriak-teriak nangis bombay tertipu begundal pemain licik. Apakah eforia anthurium mirip dengan penggelembungan pasar dan menciptakan harga semu yang pada akhirnya merugikan pemain yang masuk belakangan?

Saya masih melihat sampai saat ini anthurium tidak jauh beda dengan jenis komoditi trend lainnya yang dulu pernah meledak. Kalau anthurium tanaman kebutuhan dan diperlukan dalam jangka panjang, maka pemodal serius akan masuk dan membentuk semacam perusahaan anthurium yang terpadu dan berwawasan bisnis jangka panjang. Saya belum melihat gejala ini tidak seperti anggrek yang abadi nilai intrinsiknya. Anthurium adalah badai harga sesaat. Masalahnya masyarakat kita menjadi tidak rasional melihat ini dan saya kasihan dengan mereka yang masuk ke bisnis ini karena terkecoh seakan-akan harga anthurium tidak akan turun. Bahkan seperti karakter orang Indonesia yang sering tidak rasional melihat sesuatu segala-galanya dipertaruhkan untuk bisnis yang datang sesaat dan akan cepat perginya. Kalau harga anthurium anjlok mereka tinggal meratap karena udah keburu jual macam-macam untuk membidik bisnis ini.

Dalam insting bisnis saya harga yang terbentuk dalam tanaman ini sudah tidak rasional lalu saya berpikir mungkin nggak ada rekayasa pasar untuk membuat demam anthurium? Dan apakah rekayasa trend komoditi seperti Palem Raja, Adenium, Aglonema, Oskar atau Lou Han merupakan mainan dari kelompok tertentu yang sudah ngerti karakter cara berpikir orang Indonesia. Kalau ini memang benar-benar ada kemungkinan pemain ini menyediakan stok banyak dulu lalu dengan kapitalnya katakanlah 10 milyar mereka melakukan seakan-akan ada
transaksi dengan nilai tinggi dari komoditi 10 milyar dipecah jadi 100 juta. Sebuah tanaman yang harganya tak lebih dari 100.000 dibayar 100 juta lalu ada beberapa kali transaksi yang terjadi sehingga memunculkan rumor bahwa tanaman ini sedang disukai penggila tanaman yang nggak peduli duit, nah rumor ini akan bergerak cepat dan menimbulkan efek bola salju dimana mesin penggeraknya adalah ketidakrasionalan.

Siapa yang untung gede akibat permainan ini, yang untung gede yah orang yang pertama kali menyimpan barang yang harganya akan melambung. Katakanlah mereka taruh dana 10 Milyar, akibat rumor pasar dan ketidaksiapan pemain pinggiran maka barang akan jarang, lalu berbondong-bondong pemain pinggiran itu mencari barang dan kepada siapa barang itu dibeli, yah kepada yang nyimpen barang dan dana taruhan 10 milyar bisa jadi harganya menjadi 100 milyar inilah yang dinamakan penggelembungan pasar. Ketika orang-orang sudah banyak bermain dan orang mulai berpikir rasional maka dengan sendirinya harga akan terkoreksi dengan cepat di titik inilah penggelembungan pasar akan meledak dan menurunkan harga serendah-rendahnya. Siapa yang dirugikan yah...yang masuk belakangan. Sementara pemain inti sudah mempersiapkan trend baru. Apakah anthurium seperti ini? Saya tidak tahu tapi kalau harga anthurium akan jatuh saya 100% yakin trend anthurium tidak akan lama lagi akan selesai.

Ciri-ciri sebuah komoditas memiliki nilai tinggi di harga mendatang adalah :

1. Ada kerasionalan pasar
2. Tidak ada penggelembungan harga
3. Pemodal dengan serius menekuni bidang ini dalam jangka waktu lama
4. Bank dan Lembaga Keuangan akan bersedia mendanai bisnis ini
5. Memiliki nilai intrinsik yang tahan waktu

Nah anda siap bermain anthurium atau tunggu berapa bulan lagi lihat trend komoditi lain lalu ambil instant gain?**

Catatan: Tulisan ini ditulis oleh ANTON, Jakarta, dimuat di milis Forum Pembaca KOMPAS, 10 Nov. 2008. Karena kami anggap memiliki perspektif berbeda dalam melihat fenomena anthurium dewasa ini,tulisan tersebut kami muat apa adanya. Semoga bermanfaat.
http://langitlangit.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=113

LONCENG KEMATIAN ANTHURIUM SIAP BERDENTANG?

Langitlangit.com - Kamis, 22-Nopember-2007) Lonceng kematian anthurium siap berdentang! Peringatan yang terpapar di kolom opini Trubus edisi lalu (Trubus No. 455, Oktober 2007) menjadi topik hangat pemain anthurium. Puluhan telepon, pesan pendek, dan email menjadi saksi perbincangan mereka selama sebulan terakhir. Kalimat itu bagaikan hantu di siang bolong di tengah popularitas anthurium. Benarkah hal tersebut perlu ditakuti?

Sepintas kalimat itu memang menakutkan pencinta anthurium. Namun, bila ditelaah lebih lanjut, peringatan itu mesti dipahami secara positif. Ucapan itu mesti dimaknai sebagai pecut bagi pemain anthurium, untuk membuktikan: anthurium memang layak menjadi tanaman hias bergengsi di masyarakat.

Bagi saya, si raja daun itu memang pantas sebagai tanaman hias bernilai tinggi, terutama Anthurium jenmanii. Sosoknya gagah, berdaun tebal dan keras, serta berkarakter kuat. Semakin bertambah umur dan ukuran, sosok jenmanii kian gagah. Sementara anthurium nonjenmanii kebanyakan berdaun tipis dan lentur. Varian yang muncul dari jenmanii pun jauh lebih beragam dibanding anthurium lain.
Harus diakui tren anthurium yang menggila sejak pertengahan 2006 mulanya dibuat oleh segelintir orang. Namun, perjalanan selama 2 tahun membuktikan, segelintir orang itu tak lagi mampu mengendalikan pasar. Sedikit demi sedikit pasar terbuka karena hadirnya hobiis dan pemain baru yang sebelumnya tak dikenal di jagad tanaman hias Indonesia. Penyebaran mereka meluas hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua.

Dengan begitu, demam anthurium tak lagi terkendali. Pasar menjadi terbuka: semiriil dan semisemu. Disebut demikian karena memang permintaan nyata muncul dari hobiis dan pemain baru. Namun, juga semu karena hobiis baru itu bermetamorfosis menjadi pedagang. Jadi, kita memang belum dan tak pernah tahu, siapa ujung dari pasar ini. Secara prinsip, ujung dari pasar tanaman hias yang rill ialah hobiis dan kolektor. Merekalah pencinta anthurium sejati.

Trik bisnis
Prinsip itulah yang mesti disadari pemain anthurium. Di mana pun hobiis dan kolektor selalu menyukai tanaman yang utuh, gagah, mulus, dan kompak. Itu berarti, bila mau bertahan (calon) pekebun dan pedagang mesti memproduksi tanaman dengan kualitas yang diinginkan pencinta anthurium. Niscaya hobiis dan kolektor bakal menyukai. Tidak menutup kemungkinan hobiis dan kolektor baru bakal bermunculan.

Lalu bagaimana dengan fenomena harga anthurium yang melambung tinggi secara tiba-tiba sejak 2 tahun terakhir? Melonjaknya harga terpicu transaksi anthurium yang selalu terjadi dengan harga memukau. Transaksi itu sebagian benar-benar terjadi dan sebagian lagi trik pasar alias tidak terjadi. Namun, sebetulnya trik pasar itu tak hanya terjadi pada anthurium, tapi juga bisnis lain. Jadi siapa pun yang terjun pada dunia bisnis mesti bersiap menghadapi trik bisnis.

Sepanjang transaksi berlangsung suka sama suka, maka itu sah-sah saja. Saya melihat di sinilah uniknya bisnis anthurium. Banyak sekali transaksi yang nilainya ditentukan pembeli, bukan penjual. Tentu ini berbeda dengan aglaonema-kerabat terdekat anthurium yang juga berharga fenomenal. Pada kasus aglaonema, penjual yang menentukan harga, pembeli yang menilai kelayakan sesuai dengan kemampuan kantong. Artinya, pembeli memang suka terhadap barang itu.

Minimalkan risiko
Itulah potret bisnis anthurium. Harga yang melambung tinggi membuat banyak orang tertarik berinvestasi. Dari orang kecil, menengah, hingga kelas atas. Menurut pendapat saya, pemain anthurium yang mendengung-dengungkan keuntungan berinvestasi di anthurium seyogyanya mempunyai tanggung jawab moral untuk membantu para investor baru itu. Mereka mesti bersedia membeli produk pekebun-terutama yang berekonomi lemah yang telanjur berinvestasi di anthurium.

Namun, pengalaman-pengalaman lalu menunjukkan karakter pemain tanaman hias tanahair kebanyakan inkonsistensi alias kutu loncat. Mereka beralih ke produk lain yang menguntungkan kala produk yang digeluti tak lagi mendatangkan laba. Para investor pun mesti arif menyikapi informasi yang menyebutkan investasi anthurium bakal cerah karena ada peluang ekspor. Perniagaan ekspor hanya terjadi bila harga jual produk di sebuah negara lebih kompetitif dibanding produk serupa di luar negeri. Saat ini, harga anthurium di Indonesia paling tinggi di dunia. Maka, ekspor tak akan mungkin terjadi secara besar-besaran.

Namun, dalam dunia bisnis ada istilah jangan lewatkan peluang sekecil apa pun. Begitu juga dengan bisnis anthurium. Selama memang ada permintaan, maka silakan penuhi dengan pasokan. Maksud saya, bisnis anthurium bisa dijalankan asal para pemain sadar akan risiko. Supaya bisnis aman, intinya minimalkan risiko, terutama untuk kalangan kecil. Mereka bisa bermain dengan perputaran bisnis jangka pendek. Misal, dengan modal tanaman seharga Rp100-ribu, mereka segera lepas dengan laba tak terlalu tinggi, misal menjadi Rp125-ribu. Harga jutaan rupiah memang menggiurkan, tapi itu hanya aman dimainkan bila investor sudah memahami karakter pasar. Sebaiknya mereka, para investor baru, pun tidak tinggalkan profesi awal. Anthurium hanya sebagai sumber pendapatan tambahan.

Memahami risiko bisnis juga penting bagi para investor kelas menengah yang membenamkan modal lebih besar. Dalam bisnis, selalu ada untung dan rugi. Namun, kekecewaan akan kerugian bakal sedikit terobati bila kita memang mencintai anthurium. Terlepas dari itu semua, menurut saya, lonceng kematian anthurium belum siap berdentang, setidaknya dalam 2 tahun ke depan. Si raja daun itu mudah diperbanyak dan disilangkan oleh banyak orang. Bahkan oleh mereka yang tak mengerti ilmu genetika. Itu sebuah peluang, anthurium bakal tetap disukai banyak orang. Anthurium masih bernapas panjang.***
Ir Sugiono Budhiprawira, pemain anthurium di Bogor, kolektor sejak 1980-an/ Dikutip dari TRUBUS, dengan judul: NAPAS PANJANG ANTHURIUM
http://langitlangit.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=108

Pohon Duit Anthurium

Liputan6.com, Jakarta 16/12/2007: Nama kembang anthurium kini sedang naik daun. Pohon ini banyak diburu orang karena harganya mahal. Anthurium bak pohon uang bagi pemiliknya. Benih tanaman hias ini bisa dilego seharga Rp 300 ribu. Sedangkan sebatang anthurium besar harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Karena itu tak heran, sebuah green house

sengaja memasang alarm untuk melindungi anthurium.

Para pemilik anthurium sengaja melindungi daun hartanya dengan beragam cara. Jika alarm dirasa tidak mencukupi, pemilik rumah tanaman tak segan-segan menyertakan anjing penjaga untuk menjaga tanaman anthurium. Tapi, ada juga yang melakukan pengamanan dengan tenaga manusia.

Hal ini dilakukan lantaran maraknya kasus pencurian pohon anthurium. Belum lama ini tujuh pria anggota kelompok pencuri anthurium dibekuk personel Kepolisian Sektor Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dua pencuri terpaksa ditembak polisi saat berupaya melarikan diri. Memang dalam beberapa bulan terakhir ini kasus pencurian anthurium di kabupaten yang menjadi sentra anthurium ini setidaknya setiap dua hari terjadi sekali pencurian.

Bersamaan dengan itu, demam anthurium pun terjadi dimana-mana. Hampir setiap bulan pameran dan berbagai acara kontes anthurium dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Tak cukup dengan itu, sekarang banyak berkeliaran pemburu dan penyergap anthurium. Setiap hari para broker ini berkeliling dari satu rumah ke rumah mencari anthurium yang sesuai, baik jenisnya, kualitas dan tentu saja harganya.

Bisnis anthurium memang tengah menggelinding. Tak ada yang tahu pasti berapa besar volume perdagangan dan uang yang berputar setiap harinya. Melihat masih tingginya permintaan, diprediksi nilai transaksi anthurium ini dalam kisaran lima hingga delapan miliar setiap bulannya. Ini tak heran sebab untuk satu nursery besar saja transaksinya bisa mencapai Rp 600 juta hingga Rp 800 juta per bulan.

Demam anthurium ternyata merambah hingga ke wilayah pelosok. Rumah-rumah kaca sederhana nyaris bisa dijumpai di Desa Balong Jenawi, Karanganyar. Bupati Karanganyar Rina Iriani Sri Ratnaningsih kemudian memproklamirkan dan mempromosikan anthurium Karanganyar ke penjuru dunia. Padahal, tanaman asli tepian Amazon di Amerika Selatan ini sejak dulu tak punya ikatan historis dengan Karanganyar. Bagaimana bisnis bunga ekor ini bisa mendongkrak dan menggelindingkan roda perekonomian serta menciptakan lapangan pekerjaan, ikuti penelusurannya dalam rekaman video Sigi 30 Menit edisi Ahad, 16 Desember 2007.(IAN/Tim Sigi)

http://www.liputan6.com/news/?id=152233&c_id=8

Menetralkan Kadar Asam Pada Media Tanam

Oleh Newsroom- Jumat, 07 Desember 2007) Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah membuat media tanam sendiri dari bahan-bahan yang kita peroleh. Namun, sebelum digunakan, media tanam perlu diberi beberapa perlakuan agar bisa berfungsi dengan baik. Salah satunya adalah dengan menetralkan terlebih dahulu kadar keasamannya (pH).

Kebanyakan tanaman hias membutuhkan media tanam yang memunyai derajat keasaman atau pH netral. Tingkat keasaman atau pH yang masih bisa ditolerir oleh sebagian besar tanaman hias adalah 6-7. Untuk menguji keasaman media tanam bisa digunakan pH tester atau kertas lakmus.

Caranya, media tanam dicampur air dengan perbandingan 1 : 2, lalu diaduk dan dibiarkan hingga mengendap. Setelah mengendap, bagian air yang bening dipisahkan, lalu kertas lakmus dimasukkan ke dalamnya. Perubahan warna yang terjadi pada kertas lakmus lalu dicocokkan dengan warna pada standar nilai pH.

Ada beberapa perlakuan yang dapat dilakukan untuk menetralkan media yang terlalu asam maupun terlalu basa. Nilai pH pada media yang terlalu asam bisa ditingkatkan dengan menambahkan kapur pertanian, seperti kaptan dan dolomit. Dolomit mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kaptan karena mengandung kalsium dan magnesium. Sementara itu, pH yang terlalu tinggi bisa diturunkan dengan memberikan belerang.

Dosis kapur dan belerang yang digunakan tergantung pada kondisi keasaman media yang akan digunakan. Kapur dan belerang diberikan sedikit demi sedikit hingga nilai pH sesuai dengan yang diinginkan. Secara umum, kondisi tanah, pupuk kandang, dan kompos di Indonesia cenderung asam, jarang yang basa.

Menetralkan kadar keasaman media tanam hanyalah salah perlakuan yang bisa Anda lakukan agar media tanam bisa berfungsi dengan baik. Masih banyak cara lainnya, seperti menambah unsur hara, mematangkan pupuk kandang, mensterilkan media dari hama dan penyakit, menghaluskan media tanam, mencampur media tanam, serta menyimpan media tanam.

Semua itu terangkum dalam buku Media Tanam Untuk Tanaman Hias yang ditulis oleh Bernardinus T. Wahyu Wiryanta. Melalui buku yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka ini pula, Anda bisa mendapatkan informasi tentang panduan memilih dan menyiapkan media tanam yang tepat untuk 18 tanaman hias papan atas. Mulai dari adenium, aglaonema, anggrek, anthurium daun, bromelia, euphorbia, hingga tanaman air.

http://www.agromedia.net/kabar_agromedia/menetralkan_kadar_asam_pada_media_tanam.html

13 Desember 2007

Media Tanam Alternatif Bagi Anthurium Daun

Newsroom Rabu, 12 Desember 2007

Sebenarnya, anthurium tergolong ke dalam tanaman indoor. Umumnya, tanaman ini ditanam di pot sehingga bisa diletakkan di teras atau di dalam rumah. Karena ditanam di pot inilah, maka sebisa mungkin kita memilih media tanam yang tapat agar anthurium tetap tumbuh dengan baik.

Pada dasarnya, anthurium membutuhkan media tanam yang subur, lembab tetapi tidak sampai basah, dan sangat porous. Adapun media tanam yang paling banyak digunakan dan mudah didapatkan adalah cacahan pakis karena bahan ini memudahkan akar anthurium yang lunak menembusnya. Cacahan pakis juga mengandung unsur organik yang cukup untuk kebutuhan tanaman dan sangat porous sehingga akar anthurium yang peka terhadap genangan tidak mudah busuk.

Selain itu, Anda pun dapat mencampurkan media tanam lain untuk anthurium daun Anda. Namun tentu saja, takarannya harus disesuaikan agar tidak menyebabkan kerusakan pada akar anthurium.

Berikut ini kami informasikan beberapa campuran media tanam untuk anthurium daun.

• Campuran humus gunung, pupuk kandang, dan pasir, dengan perbandingan 5 : 5 : 2.
• Campuran akar pakis dan biji kapuk randu, dengan perbandingan 1 : 1.
• Campuran akar pakis, pupuk kandang, dan sekam bakar, dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
• Campuran akar pakis, akar kadaka, dan humus kaliandra, dengan perbandingan 3 : 3 : 1.
• Campuran akar pakis, humus gunung, dan pupuk kandang, dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
• Campuran sekam bakar dan pupuk kandang, dengan perbandingan 1 : 1.
• Campuran akar pakis, humus gunung, dan akar kadaka, dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
• Campuran akar pakis dan sekam bakar, dengan perbandingan 1 : 1.

Nah, setelah mengetahui beberapa alternatif campuran media tanam untuk anthurium daun Anda, tidak ada salahnya untuk segera mencoba untuk mempraktikkannya. Siapa tahu, dengan mengganti media tanam yang ada, anthurium daun Anda dapat tumbuh lebih baik lagi. Selamat mencoba!

* Artikel lepas ini diintisarikan dari buku Mengenal & Merawat Anthurium Daun dan Media Tanam Untuk Tanaman Hias yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka.

http://www.agromedia.net/kabar_agromedia/media_tanam_alternatif_bagi_anthurium_daun.html

Pemilihan Pupuk yang Tepat Bisa Mempercantik Tanaman!

Oleh Newsroom Senin, 26 November 2007) Ada banyak faktor yang bisa mengakibatkan ‘sakit’ pada tanaman. Salah satunya adalah kesalahan dalam pemupukan. Akibatnya, keindahan dan nilai jual tanaman hias tersebut menjadi berkurang, bahkan bisa menjadi tidak berharga sama sekali.

Meski banyak orang yang sangat concern terhadap tanaman hias, tapi tidak banyak yang memahami tentang tata cara pemupukan yang benar dan tepat. Sekalipun di pasaran banyak jenis pupuk yang ditawarkan, Anda jangan terkecoh. Pupuk yang Anda pilih belum tentu cocok dengan kondisi tanaman hias kesayangan Anda.

Secara umum, tanaman hias memiliki sifat masing-masing terhadap kandungan air, unsur hara, dan kondisi tanah. Untuk penyesuaian kadar yang ideal, diperlukan pengolahan media tanam yang benar dan tepat. Berkaitan dengan media tanam tanaman hias, pemupukan sangat berperan dalam penyesuaian unsur hara yang terkandung di dalamnya.

Oleh sebab itu, pemupukan yang salah bisa mengakibatkan buruknya kondisi media tanam, sehingga memengaruhi kualitas perkembangan tanaman hias. Maka, sering ditemukan kasus buruknya pertumbuhan tanaman, bahkan berakhir dengan kematiannya, sekalipun bibit tanaman tersebut diperoleh dari jenis unggulan dan diproses secara sempurna di laboratorium pembibitan.

Selain itu, setiap jenis pupuk tidak diperoleh dari bahan yang sama, misalnya pupuk anorganik diperoleh dari proses kimiawi yang diolah oleh pabrik. Sedangkan pupuk organik dihasilkan dari bahan-bahan alami, seperti bangkai hewan, kotoran hewan dan manusia, serta tumbuh-tumbuhan yang sudah mengering.

Masing-masing pupuk memiliki sifat dan kandungan zat yang berbeda-beda. Ada yang kadar Nitrogennya (N) lebih tinggi, Fosfornya (P) lebih tingi, atau Kaliumnya (K) yang lebih tinggi. Biasanya, dosis pupuk tertera dalam kemasan.

Oleh sebab itu, memilih pupuk dan pengaturan komposisinya tidak boleh sembarangan. Akan tetapi, harus disesuaikan dengan jenis, kondisi tanaman, dan fase pertumbuhannya.

Jadi, apapun tanaman hias Anda—anthurium, anggrek, aglaonema, adenium, euphorbia, atau puring—pastinya akan terlihat lebih indah jika unsur dasar dalam merawatnya pun diperhatikan dengan benar.

Selamat mencoba!

*Tulisan ini diintisarikan dari buku Cara Tepat Memupuk Tanaman Hias yang ditulis oleh Redaksi AgroMedia Pustaka.

http://www.agromedia.net/kabar_agromedia/pemilihan_pupuk_yang_tepat_bisa_mempercantik_tanaman.html

11 Desember 2007

Raja Hitam Penakluk si Bongsor


Oleh trubuson Sabtu, 01 Desember 2007) Jari-jemari Suci Puji Suryani bergerak lincah menekan tuts komputer jinjing. Angka di lembar penjurian pun berpindah ke komputer bank data. Begitu rekap penilaian dicetak 30 menit berselang, 3 juri mengangguk sepakat. Total poin tertinggi merujuk pada 1 pot pilihan. 'Ini sebuah kemenangan absolut,' kata Evy Syariefa, salah satu juri. Anthurium jenmanii koleksi Ir Horas Pardomuan Batubara atau Domu di pot 35 pun menjadi yang terbaik di kelas jenmanii.

Raja daun berwarna kehitaman itu memang luar biasa. 'Penampilan daun kompak, roset, dan rimbun. Ia kian unggul karena didukung kesehatan yang tinggi, daunnya mulus, nyaris tanpa cacat,' kata Nurdi Basuki, juri lain. Sosoknya semakin kokoh karena tangkai daun pendek. Tiga juri-Nurdi Basuki, Ukay Saputra, dan Evy Syariefa-pun menobatkannya sebagai yang terbaik. Warna hitam pun menarik. Banyak kalangan menduga varian berwarnalah yang bakal diminati di masa depan.

Sejatinya, pesaing utama si hitam tak kalah tangguh. Saudara selubuknya-juga milik Domu-berpenampilan prima. Urat dan liukan daun jenmanii kol itu menonjol. Sayang, posisi tumbuh daun kurang kompak. Ia pun mesti puas di posisi kedua dengan total nilai 244,785. Selisih 2,61 poin dengan si hitam yang mendulang angka 247,395. Di tempat ketiga, bertengger A. jenmanii tanduk lilin koleksi Mohawari. 'Tanduk lilin paling langka di antara semua kontestan. Namun, ini bukan lomba kelangkaan. Yang tampil prima yang pantas juara,' tutur Nurdi.

Toh, bukan berarti peserta lain tak berkualitas. Sebut saja A. jenmanii dengan pot cokelat berpita milik Maria A Aprima Vista. Kontestan bernomor 25 itu menarik perhatian tim juri dan pengunjung. Maklum, sosoknya yang bongsor tampak indah dengan daun yang mulus. Ia pun melenggang ke posisi 10 besar. Sayang, ia gagal menorehkan sejarah sebagai juara karena 3 juri cukup jeli. 'Ada ujung daun yang digunting mengikuti pola normal, mungkin karena rusak,' kata Evy Syariefa. Si bongsor berdaun 20 pun tumbang.

Seru

Kontes anthurium yang digelar pada ajang Trubus Agro Expo 2007 itu menyedot perhatian pengunjung. Sebanyak 81 raja daun turut ambil bagian dalam kompetisi itu. 'Jumlah peserta meningkat 100%. Tiga bulan silam kontes serupa hanya diikuti 40 peserta,' kata Utami Kartika Putri, manajer pengembangan Trubus. Sayang, menurut Nurdi secara keseluruhan kualitas peserta menurun. Diduga indukan jenmanii berkualitas telah berpindah tangan ke kolektor di Jawa Tengah.

Yang menarik, peserta jenis anthurium lain pun membeludak. Sebut saja kelas nonjenmanii dan nonwave of love pun dimeriahkan 39 kontestan. Kali ini A. hookeri variegata milik Sukarno yang memenangkan pertarungan. Secara tak terduga ia mengalahkan indukan corong milik H Husein. 'Kesan pertama hookeri lebih menonjol,' kata Nurdi. Menurut Nurdi, yang justru menarik ialah sang jawara 3, keris tanduk. Tepi daun bergelombang khas, daun sempit, melengkung, dan bentuk daun membentuk huruf V. Diduga ia silangan keris dengan wave of love.

Di kelas wave of love, 2 tempat terbaik diboyong Riana Suma Putri dari Gading Permai. Gelombang cinta di pot nomor 6 dan 7 koleksinya menempati posisi pertama dan kedua. Keduanya tampil sebagai juara karena tipe gelombang menarik dan daun sehat. Sementara pemenang ketiga direngkuh A. plowmanii koleksi Ruwiyantoro yang berdaun belang.

Sansevieria

Di tengah demam anthurium di Indonesia, hajatan pada 11 November 2007 itu juga menggelar lomba sansevieria. 'Di sini luar biasanya. Justru saat tren anthurium, sansevieria yang keluar di kontes kualitasnya malah meningkat tajam,' kata Ana Silvana, juri sansevieria. Di kontes kali ini banyak sekali sansevieria langka dan mutasi yang berpenampilan prima. Lazimnya, sansevieria langka dan mutasi tampil memble di kontes. Pasalnya, kondisi mereka hanya 2-3 daun atau berdaun banyak tapi stres karena perjalanan jauh. Posisi juara pun banyak digenggam kelompok trifasciata, sansevieria kebanyakan yang tak langka.

Menurut Ana, hadirnya jenis langka dan mutasi berpenampilan prima karena demam anthurium. 'Semua orang fokus pada raja daun. Sementara bagi penggemar sansevieria sejati, itu saat tepat untuk pemulihan. Maklum, jenis langka dan prima banyak didatangkan dari mancanegara,' kata wanita yang berprofesi sebagai eksportir sansevieria itu. Ana menyebut Sansevieria fischerii variegata dan S. cylindrica variegata sebagai contoh.

Dua tanaman yang disebut terakhir itu dinobatkan 3 juri-Ana Silvana, Grace Satya Dharma, dan Syah Angkasa-sebagai kampiun dan runner up di kelas batang tunggal. Kedua lidah jin itu koleksi Edi Sebayang, kolektor sansevieria yang getol mendatangkan lidah naga-sebutannya di China-dari Thailand. Di posisi ketiga Sansevieria patens milik Ramandya Rafi Bagaskoro. Sementara di kelas batang majemuk, koleksi Dr Wisyanti Siahaan, B Rudy, dan Edi Sebayang secara berurutan di posisi 1-3. Menurut Ana, lidah naga pun tak mau kalah dengan sang raja daun, anthurium. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdiyasa)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=129