11 Desember 2007

Air Mata Anthurium


Oleh trubuson Sabtu, 01 Desember 2007) Malam senyap, saat sebagian orang meringkuk di balik selimut, Bripka Supriyono terjaga. Gonggongan anjing membangunkan tidur ayah seorang anak itu. Ia mengendap-endap menuju pintu belakang rumahnya. Tangan kanannya memegang revolver yang siap memuntahkan peluru. Dengan gerakan cepat ia membuka pintu dan mengarahkan moncong pistol itu ke beberapa arah.

Namun, secepat kilat pencuri menghilang. Itu bukan kisah di film-film laga, tetapi kejadian nyata di kompleks perumahan Pura Arista, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Pencuri menyatroni rumah Supriyono. Mereka membawa kabur 8 anthurium yang tercerabut dari pot. Media tanam berhamburan di bawah rak setinggi pinggang. Pot berantakan. Salah satu yang dicuri adalah Anthurium jenmanii bertulang daun merah yang petang sebelumnya ditawar Rp7-juta.

'Saya syok,' ujar polisi berusia 37 tahun itu. Hampir 2 pekan pascapencurian, puluhan anthurium koleksinya telantar. Padahal, biasanya jam berapa pun tiba di rumah, ia selalu menyempatkan untuk melihat-lihat tanaman hias daun itu. Begitu juga pagi sebelum berangkat kerja, ia masih sempat merawat tanaman anggota famili Araceae itu. Namun, semangat merawat kerabat aglaonema itu seperti hilang.

Harap mafhum, pencurian di rumah polisi itu bukan untuk yang pertama. Bayangkan, hanya dalam waktu kurang dari sebulan, ia 3 kali kecurian. Pertama pada 14 Agustus 2007, 5 pot anthurium berpenampilan prima hilang. Supriyono meletakkan tanaman-tanaman hias itu di sisi kanan rumahnya. Maling leluasa menggondol 5 anthurium-wayang dan jaipong-setelah meloncat pagar tembok setinggi dada.

Sepuluh kali

Polisi yang menekuni bisnis anthurium sejak akhir 2005 itu langsung membuat greenhouse berpagar seng di sisi kanan rumahnya. Namun, ia menyisakan bangunan itu-tanpa pagar seng- sebagai pintu keluar-masuk. 'Toh pintu itu dekat kamar tidur saya. Masak kalau ada orang masuk saya tidak tahu?' ujar Supriyono. Perhitungannya ternyata tak sepenuhnya benar. Betul, si tangan panjang itu tidak melewati pintu itu, tetapi menggangsir alias membuat tembusan di tanah.

Total jenderal 30 pot anthurium hilang. Beberapa yang hilang adalah queen cobra terdiri atas 9 daun yang ditawar Rp30-juta; burgundi, Rp15-juta, dan mangkok, Rp10-juta. Belum lagi jenis-jenis langka seperti tanduk tulang merah dan black dragon. Kerugiannya? Menurut perhitungan Supriyono total jenderal kerugiannya Rp200-juta dari 3 kali kecurian. Itulah sebabnya ia syok, hampir putus asa menekuni bisnis anthurium.

Namun, akhirnya semangat Supriyono berkobar lagi setelah mengingat begitu banyak investasi yang dibenamkan. Usai Lebaran silam, ia membuat pagar seng sepanjang 140 meter. Seng itu memagari lahan kosong yang akan dijadikan sebagai lokasi perumahan. Letak lahan persis di sisi kanan rumahnya. Supriyono menduga area itu kerap dimanfaatkan pencuri untuk melarikan diri. Menurut pedagang yang semula tak tertarik sosok anthurium itu, biaya pembelian seng mencapai ratusan juta rupiah.

Selain itu ia juga membangun pos pengamanan di depan rumah, menggaji seorang satuan tugas pengamanan, dan memelihara anjing. Semua itu dilakukan agar pencurian tak terjadi lagi. Dua tahun terakhir seiring dengan melambungnya popularitas anthurium, kasus pencurian juga meningkat. Bahkan beberapa orang mengalami pencurian berkali-kali seperti dialami Supriyono. Sugiyono Budhi Prawira, pedagang di Bogor, Jawa Barat, misalnya, 10 kali kecurian dengan kerugian ratusan juta rupiah.

Pingsan

Kasus pencurian juga terjadi di sentra terbesar anthurium, Karanganyar, Jawa Tengah. Lihatlah Hauw Lie, pedagang besar di Karangpandan, Karanganyar. Tak tanggung-tanggung 302 Anthurium jenmanii digondol maling. Pencuri mencabut tanaman berukuran 15 cm dan rata-rata terdiri atas 5 daun itu dari pot. Harga sebuah tanaman berkisar Rp1,5-juta-Rp2-juta. Artinya, pemilik Nurseri Gracia itu merugi Rp453-juta hanya dalam semalam pada 1 November 2007.

'Saya yang merawatnya jadi sangat sedih,' ujar Rukimin, karyawan Nurseri Gracia. Rukimin bukannya tak memberi pengamanan untuk greenhouse seluas 50 m2. Ia memagarinya dengan kawat ram, memelihara 2 angsa, melepas anjing pada malam hari, dan menggaji seorang penjaga. 'Angsa sebagai alarm alami ketika ada orang masuk,' ujar Rukimin. Meski, pengamanan berlapis toh pencurian tak terelakkan.

Pencurian tak hanya terjadi pada malam hari, malahan di rumah Ir Purnomo pada pagi hari. Pukul 09.30 sejam setelah ia meninggalkan rumah ke kantor, 2 pemuda berusia 20-an tahun datang untuk membeli anthurium. Hadmanti, ibunda Purnomo, sendirian di rumah melayani mereka yang mengajak berbincang-bincang santai. Seingat Hadmanti, mereka 2 kali datang ke lokasi itu. Seketika muncul 2 pemuda lain yang mengikat kedua tangan Hadmanti. Tali plastik yang lazim sebagai tambang jemuran pakaian itu juga dililitkan ke leher.

Perempuan 75 tahun itu tak sempat berteriak lantaran mereka menyumpal mulutnya dengan gulungan kain. Setelah kedua kaki diikat, perempuan malang itu ditidurkan di dapur. Kawanan perampok itu amat leluasa mengambil 44 anthurium berpenampilan prima. Jenis lemon urat kuning bertongkol satu, umpamanya, ditawar Rp225-juta; jenmanii 2 tongkol, Rp60-juta. Beberapa tanaman yang dicuri sebetulnya sudah dibeli orang.

Jenmanii mini size lemon terdiri atas 2 daun, rencananya pada pukul 14.00 akan diambil seorang pembeli. Tanaman itu laku Rp35-juta. 'Kerugian yang dilaporkan (kepada polisi, red) hanya Rp150-juta. Tetapi kalau dihitung kerugian kira-kira setengah miliar rupiah,' ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Islam Bandung itu.

Saya belum bisa menerima mengapa ibu dianiaya,' ujar karyawan Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Surakarta itu. Soalnya peristiwa itu membuat ibundanya trauma. Kepada reporter Trubus, Nesia Artdiyasa, Hadmanti menuturkan, 'Sampai sekarang saya belum berani tinggal di rumah sendiri, meski siang hari.'

Jiwa terguncang

Bisnis anthurium memang tak hanya melahirkan senyum mengembang bagi yang meraup untung besar. Namun, banyak juga yang menelan pil pahit karenanya. Sebut saja Mahendradata yang syok melihat anak laki-lakinya dirawat di Rumahsakit Jiwa (RSJ) Magelang, Jawa Tengah. Ketika ditemui Trubus wajah pria separuh baya itu muram. 'Saya masih syok,' katanya singkat. Musababnya, Sentanu-atas permintaan ayahnya, nama itu disamarkan-mendapat pesanan bibit anthurium.

Pria 32 tahun itu bergegas melayaninya dengan mendatangkan satu mobil bibit anthurium. Celaka tiga belas, bibit itu ditolak oleh pemesan lantaran tidak sesuai spesifikasi yang diinginkan. Kejadian itulah yang mengguncang jiwanya. Sentanu yang berbisnis anthurium setahun terakhir itu kerap berjalan sendirian tanpa tujuan jelas. Bila melihat tanaman, mulutnya meracau memberikan komentar.

Anthurium juga menguras air mata Joko Sungkono. Mata guru SD Kemuning, Karanganyar, itu sembap mengetahui 50 jenmanii senilai Rp450-juta tercerabut dari pot. Teriakan tetangganya, 'Maling… maling…,' membangunkannya. Ia langsung mengecek greenhouse di sisi rumahnya. Pot-pot kosong-melompong berserakan tanpa anthurium.

Kisah mengenaskan 'gara-gara' anthurium juga dialami oleh 2 pemuda, sebut saja Arnold dan Armadino, warga Jakarta. Wajahnya babak belur dan mata membengkak dihajar massa. Trubus menjenguk mereka di Rumahsakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Tangan kiri mereka diborgol dengan tempat tidur. Mereka datang ke Surakarta, Jawa Tengah, atas ajakan temannya. Di sana temannya menyewa mobil dan pergi ke sebuah tempat. Di tempat itu Arnold dan Armadino menunggu di luar mobil.

Tak berapa lama, terdegar suara gaduh. Ternyata temannya itu mencuri anthurium. Karena ketahuan, temannya melarikan diri dengan membawa mobil serta meninggalkan Arnold dan Armadino. Karung berisi anthurium ditinggalkan. Nah, Arnold dan Armadino yang mengatakan tak tahu-menahu itu menjadi sasaran amuk massa. Kisah sedih itu juga dialami sebut saja Setyaki. Karyawan sebuah toko penyedia tanaman hias itu mencuri anthurium untuk biaya pernikahannya. Namun, jejaknya mudah dilacak. Alih-alih menikah, ia malah dikeluarkan dari tempatnya bekerja.

Menurut Bripka Supriyono, anthurium menjadi incaran pencuri karena harganya mahal. 'Ketimbang mencuri mobil, mereka (pencuri) pikir lebih enak mencuri anthurium, karena tanpa perlu surat, mudah dibawa, dan mahal,' ujar Supriyono yang memarkir mobil di jalan depan rumah. Anthurium memang membuat banyak orang tersenyum lantaran menikmati laba besar. Namun, banyak juga yang menangis karenanya. Ah, anthurium.… (Sardi Duryatmo) http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=130

Hibrida Berlabel Jenmanii

Oleh trubuson Sabtu, 01 Desember 2007) Pemilik situs The Exotic Rainforest di Amerika Serikat heran bukan kepalang. Dalam sehari masuk 4-5 kali permintaan Anthurium jenmanii dari hobiis Indonesia sejak setahun terakhir. Sayang, situs itu tak menjual si raja daun. Sebuah nurseri besar di negeri Paman Sam juga mengaku produksi A. jenmanii hingga 2008 sudah dipesan orang Indonesia. Jenmanii menjadi nama populer dan bernilai jual tinggi di jagad tanaman hias Nusantara.

Popularitas A. jenmanii memang luar biasa. Pemilik nurseri dan media massa membandrolnya dengan harga selangit. Ia disebut-sebut sebagai lokomotif anthurium karena mampu mengangkat jenis lain. Sebut saja A. plowmanii alias gelombang cinta yang turut terdongkrak. Gaung kontes anthurium pun bergema hampir tiap bulan.

Namun, benarkah label A. jenmanii pantas disematkan pada jenmanii yang kini mempunyai embel-embel nama belakang? Sebut saja jenmanii kobra, mangkok, king kobra, supernova, dan anakonda. Sekadar contoh, pengalaman penulis menjuri anthurium di Pameran Flora dan Fauna 2007 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dapat menjadi pertimbangan. Sejatinya, dari 50 peserta kelas jenmanii, hanya ada 1 tanaman yang betul-betul jenmanii.

Selain itu semuanya tak layak lagi disebut A. jenmanii, karena memang bukan jenmanii. Ia adalah anthurium hibrida yang salah satu indukannya kemungkinan A. jenmanii. Di kalangan pemulia, hibrida yang asal-usulnya tak lagi dapat dirunut disebut mongrel strain. Sebutan itu juga dipakai oleh komunitas pencinta anjing pada anjing yang tak jelas trah-nya, misalnya pada anjing kampung. Ia mendapat konotasi negatif karena pemulia profesional tak lagi memakainya dalam penyilangan selanjutnya.

Tak lazim

Menurut hemat penulis, penamaan anthurium di negeri ini di luar kelaziman tatanama yang berlaku. Pasalnya, suatu tanaman hasil silangan, namanya tak perlu lagi menggunakan nama spesies maupun subspesies dari salah satu indukannya. Walau tak dapat disangkal, boleh jadi keturunan itu lebih baik ketimbang kedua induknya. Nama sebuah hibrida lazimnya diberikan nama yang eksotis atau populer, misalnya A. emerald forest atau A. star ruby. Itu dikaitkan dengan penampilannya yang baru atau dikaitkan dengan nama penyilang maupun orang terkenal.

Publik baru mengetahui nama sang induk, bila penyilang atau pembudidaya bersedia menyebutkan. Penyilang profesional biasanya menyebutkan spesies, subspesies, atau varietas indukannya. Itu pun langka sekali yang bersedia, karena membuka itu sama dengan membeberkan rahasia perusahaan. Pengamat lain hanya bisa berhipotesis soal indukan dari penampilan tanaman.

Contoh yang paling mudah ialah Aglaonema rotundum. Semua mafhum, rotundum ialah indukan yang membawa gen merah dominan. Hampir semua aglaonema hibrida berwarna merah mewarisi darah rotundum. Namun, tidak ada satu pun varietas silangannya yang diberi nama salah satu tanaman induknya. Dua keturunan rotundum yang paling populer ialah aglaonema pride of sumatera dan donna carmen. Ia hanya disebut pride of sumatera dan donna carmen, bukan A. rotundum pride of sumatera dan A. rotundum donna carmen. Itu karena gen pada tanaman itu tak hanya berasal dari A. rotundum.

Memang ada juga pemberian nama populer di samping nama spesies seperti pada sansevieria. Sebut saja pada Sansevieria halii. Dikenal S. halii Baseball Bat, S. halii Baseball Bat variegata, S. halii Blue Bat, dan S. halii Pink Bat. Pun pada kelompok trifasciata, ada S. trifasciata laurentii Twisted Sister dan S. trifasciata laurentii Gold Flame. Namun, sederetan nama itu bukanlah tanaman hasil silangan alias hibrida. Mereka sekadar mutasi dari spesies yang memang kerap terjadi pada lidah mertua. Pemberian nama yang berbeda sekadar membedakan mutasi yang satu dengan yang lain dalam satu spesies.

Tetap sama

Lalu bagaimana A. jenmanii yang asli? Jenmanii yang darahnya belum tercampur anthurium lain kemungkinan datang ke Indonesia pada awal 80-an. Ciri khasnya, apabila sudah cukup umur, sosoknya besar, daun lebar, bertekstur kasar, gampang berbunga, dan banyak menghasilkan biji. Penulis pertama kali mendapatkan biji-biji jenmanii pada awal 80-an dari sahabat pena di Florida. Dari puluhan biji yang disemai hampir semuanya bersosok sama, tak ada yang menunjukkan kelainan signifikan. Itu dari sebuah indukan yang diambil dari habitatnya di Suriname.

Sampai awal 90-an A. jenmanii itu dikembangbiakkan. Ternyata sosok A. jenmanii beserta keturunannya tetap sama hingga generasi ketiga, karena merupakan galur murni. Itu sangat berbeda dengan saat ini, sulit sekali menemukan A. jenmanii. Kerapkali hobiis baru mengeluh karena begitu banyak anthurium yang diakui anakan jenmanii, tapi sama sekali tak menampilkan satu pun ciri yang ada pada jenmanii. Itu karena memang tidak ada darah jenmanii dalam silsilahnya.

Bila demikian, maka sengaja atau tidak, telah terjadi sebuah penipuan dan pembodohan karena informasi tidak lagi mengandung kebenaran bahkan cenderung menyesatkan. Ada 3 hipotesis sebagai biang keladinya. Pertama, segelintir orang mendompleng nama jenmanii-yang tengah naik daun-untuk mendongkrak harga jual anthuriumnya. Kedua, ketidaktahuan pembeli dimanfaatkan penjual, dan terakhir, penjual pun sebetulnya tidak mengetahui. Terjadilah simpang siur informasi yang kian parah karena publikasi media yang jor-joran tanpa konfirmasi pada ahlinya.

Hibrida

Sebagai tanaman hibrida, varian hasil silangan jenmanii dengan beragam nama yang kita kenal belum jelas silsilahnya. Anehnya, pedagang dan hobiis baru berani membeli kecambah jenmanii dengan harga yang menggila, Rp200-ribu-Rp1-juta. Padahal, pengalaman penulis menyilangkan A. jenmanii dengan A. bondplandii subsp guayanum sejak 1990 menghasilkan banyak varian. Dari 100 anakan F1 hanya 3 tanaman yang dipelihara. Anakan F1 lalu disilangkan sesamanya dan dihasilkan 200 anakan F2. Hanya 2 yang tetap dipelihara. Sisanya dimusnahkan.

Tanaman pertama dipilih karena cenderung mengikuti A. jenmanii, tetapi sosok lebih kecil. Tekstur daun sangat nyata, warna daun hijau tua cenderung gelap dan mengkilap. Daun cenderung lebih tebal ketimbang 2 induknya. Tanaman kedua berukuran sama dengan A. bondplandii subsp guayanum, hanya daun lebih lebar, tulang daun nyata, warna hijau kecokelatan, dan pucuk berwarna merah burgundi. Artinya, mendapatkan silangan yang berkualitas sangat sulit. Dari 200 anakan hanya 2 yang berkualitas. Itulah sebabnya, kolektor rela merogoh kocek dalam-dalam.

Artinya, suatu kebodohan bila seorang hobiis berani membeli anakan hanya karena nama besar induknya. Ia hanya berangan-angan memperoleh anakan yang mirip dengan induknya yang hibrida. Pasalnya, kemungkinan itu amatlah kecil karena dalam darah induk mengalir berbagai macam tetua anthurium yang tak jelas lagi runutannya. Padahal, secara teori anakan suatu hibrida hanya akan mirip dengan induknya bila diperbanyak secara vegetatif, misal dengan potong bonggol.

Kini, anakan anthurium hibrida yang dulu dibuang-buang karena dianggap tak prospektif menjadi mesin uang. Dikhawatirkan terjadi kejenuhan pasar secara cepat seperti kasus lou han. Bayangkan, berapa banyak hobiis baru yang kecewa karena telanjur menginvestasikan dana. Sebuah kenyataan pahit yang mesti diterima apa adanya. (Felix Fadjar Marta, pengamat tanaman hias, tinggal di Jakarta)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=131

Pesona Sansevieria Mini Dari Negeri Jiran hingga Negeri Sendiri

Oleh trubuson Sabtu, 01 Desember 2007) Inilah legenda karya Jonathan Swift! Di tepi pantai, Gulliver, dokter muda asal Inggris, tergolek pingsan. Ia terdampar setelah kapal layarnya karam dihantam gelombang. Betapa terkejutnya Gulliver kala tersadar. Seluruh tubuh terikat. Ratusan prajurit mini-seukuran 6 inci setara 15 cm-mengelilingi dengan senjata terhunus. Kisah di negeri liliput itu begitu populer ke penjuru negeri. Namun, di Penang, Malaysia, bukan prajurit mini yang terkenal. Di sana, sansevieria mini seukuran 5-15 cm mulai populer.

Pantas sansevieria mini digandrungi hobiis Malaysia. 'Sosoknya imut. Itu menjadi daya tarik buat hobiis pemula,' kata Tham Peng Hooi, pemilik Xiang Fook Garden. Pada Pameran Bunga di Taman Botani Pulau Penang misalnya. Trubus melihat sebagian besar gadis dan ibu rumahtangga yang keluar dari stan Xiang Fook menenteng jinjingan berisi si liliput. Padahal, lidah jin-sebutan sansevieria di negeri jiran-itu dibandrol dengan harga tinggi.

Sebut saja sansevieria dari keluarga trifasciata. Ia dibandrol dengan harga rata-rata RM28 setara Rp70.000. Bandingkan dengan sansevieria serupa yang bersosok biasa, harganya hanya Rp15.000-Rp20.000. 'Bila tak dibuat mini, jarang dilirik. Dianggap tanaman biasa,' ujar Tham. Menurutnya, ide membuat sansevieria mini berasal dari ayahnya, Tham Hok Cheng. Tham senior 'mengerdilkan' sansevieria agar tanaman itu bisa diletakkan di atas meja: di samping komputer atau di dekat asbak.

Ketika itu 2 tahun silam, keluarga Tham mendapat informasi sansevieria bermanfaat bagi lingkungan. 'Kabarnya dia (sansevieria, red) antipolusi dan antiradiasi. Bukankah cocok diletakkan di meja perokok dan pegawai yang selalu di depan komputer?' tanya Tham senior. Lidah naga-sebutannya di China-pun dibuat mini dengan cara sederhana. Rimpang atau anakan sansevieria yang baru muncul ditanam di pot mini berdiameter 8-12 cm dengan media cocopeat murni. Pertumbuhan sansevieria pun terhambat karena media miskin hara.

Dosis rendah

Menurut Tham, agar kehidupan si mini tetap berjalan, setiap minggu disiram dan disemprot pupuk daun dosis rendah. Sebutan takaran rendah itu mengacu pada dosis kemasan. 'Sekitar 1/2-1/4 dari dosis yang tertera. Jenis pupuk apa pun bisa digunakan,' ujar Tham. Inovasi ayah dan anak itu tak berhenti sampai di situ. Untuk mendongkrak harga Tham menanam sansevieria mini berdekatan dengan boneka-mini di sebuah pot sedang, berdiameter 20 cm. Tampilan lidah mertua itu menjadi cantik, mirip taman mini. Harga pun melambung menjadi RM68 setara Rp170.000.

Kreasi dari negeri jiran itu mengingatkan pada sansevieria koleksi A Gembong Kartiko di Batu, Jawa Timur. Sejak 1,5 tahun silam ia 'membonsai' sansevieria mini untuk mengangkat pamor si lidah naga (baca: Lidah Jin Kecil Itu Indah, Trubus Mei 2007). Gembong juga menggunakan media minim hara meski berbeda. Ia memakai 100% sekam bakar atau pasir malang, sekam mentah, dan sekam bakar dengan komposisi 2:1:1. Pengrajin gerabah itu mencetak sansevieria mini untuk memuaskan hobiis sansevieria Jawa Timur yang umumnya berlatar belakang bonsai.

Menurut Gembong tren sansevieria mini di Malaysia membuktikan lidah naga kerdil memang cocok untuk hobiis, mulai dari pemula hingga kolektor. 'Itu sebuah bukti, sansevieria tanaman bandel. Ia bisa tumbuh di media apa pun, mulai cocopeat, mosh, sekam, hingga pasir murni,' tutur Gembong. Bahkan, menurut Agus Mulyadi, pemilik nurseri Griya Disp, Solo, sansevieria mini bagaikan sebuah lokomotif. Ia menjadi pintu masuk hobiis pemula untuk menyukai lidah mertua. Ia membuktikan dalam sebuah sosialisasi sansevieria 3 bulan silam, sebanyak 200 pot lidah mertua mini, ludes diserbu pemula.

Pasir laut

Nun di Yogyakarta, ada juga Yoe Kok Siong, yang membuat sansevieria mini dengan cara tak lazim. Pemilik nurseri Kaliurang Garden Center itu menumbuhkan sansevieria dari kelompok trifasciata di media pasir laut. Semuanya berawal dari kebetulan belaka. Ketika itu setahun silam, ia mengambil pasir laut untuk dihamparkan di taman. Tak disangka, sansevieria yang terkena pasir laut tumbuh bagus. Padahal, sebelumnya lidah mertua itu terabaikan lantaran membusuk di pot dengan media biasa-campuran tanah, kompos, dan sekam.

Ia pun memindahkan sepot lidah naga ke dalam pot kecil dengan media pasir laut murni. 'Pasir cukup dijemur sampai kering, baru dipakai sebagai media,' katanya. Benar saja, sang lidah jin tumbuh prima meski berukuran mini. Pengusaha jamu itu lalu meletakkannya di atas meja selama berbulan-bulan tanpa penyiraman. Menurut Yoe, sansevieria tetap mendapat pasokan air karena kelembapan Kaliurang tinggi. Diduga pasir laut mampu menyerap butiran air dari udara. Sementara sosok mini terjadi karena ukuran pot kecil, sehingga pergerakan akar dan daun terhambat. Media itu berhasil menumbuhkan sansevieria mini sebanyak 400 pot.

Menurut Lanny Lingga, praktisi tanaman hias di Bogor, sebetulnya sansevieria tak menyukai media dengan elektrokonduktivitas (tingkat penghantaran listrik yang dipengaruhi jumlah kation dan anion, red) tinggi dan suasana basa. Kemungkinan besar pasir pantai memiliki elektrokonduktivitas tinggi dan suasana basa karena tingginya kadar garam, 'Bila yang digunakan pasir pantai, kadar garam tinggi, karena terjadi proses pengendapan garam. Lidah mertua bisa keracunan garam dan busuk karena bakteri. Soalnya, bakteri menyukai suasana basa,' tutur Lanny.

Namun, bukan berarti pasir laut tak bisa digunakan. 'Saat ini banyak pasir laut yang dipakai sebagai media. Ia bukan pasir dari tepi pantai, tapi diambil dari tengah laut dengan cara membor,' kata Lanny. Yang disebut terakhir memang cocok digunakan sebagai media sansevieria maupun tanaman lain. Pasalnya, ia tak mengandung kadar garam yang tinggi dan pH netral.

Tertarik membuat sansevieria mini? 'Coba saja dengan media apa pun. Prinsipnya, minimkan hara dan tanam di pot kecil,' kata Gembong. Si kerdil pun tak hanya dinikmati di negeri liliput. Menurut Yoe, kecantikan si mungil bisa dinikmati di atas meja, bahkan di samping komputer, di ruang kerja. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdiyasa)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=7&artid=127

03 Desember 2007

Anthurium Pendatang dari Negeri Seberang


Oleh trubuson - Sabtu, 01 Desember 2007

Imigran asal Filipina itu akhirnya tiba di kawasan Kaliurang, Yogyakarta, pada akhir September 2007. Dengan 4 daun berbentuk seperti gunungan pada pentas wayang, penampilannya beda dengan 'saudara-saudaranya' yang ada di Indonesia. Kini, Anthurium ramonii-pendatang itu-tengah memulihkan diri di dinginnya udara Kaliurang.

Anthurium ramonii tidak sendiri. Sebulan berselang, 2 pot Anthurium weberbourii dan sepot A. longifolia menemani. Dua jenis terakhir juga didatangkan dari negeri tetangga. 'Ini spesies-spesies dari Filipina,' tutur Aris Budiman, si empunya tanaman. Spesies longifolia-seperti namanya-berdaun lanset dan memanjang. Penampilannya mirip bilah-bilah pedang berwarna hijau. Sementara bentuk daun weberbourii mirip keris, tapi bagian pangkalnya lebar.

Nun di Sawangan, Depok, pendatang asal Filipina juga hadir di nurseri Hara milik Ricky Hadimulya. Jenisnya sudah lazim dikenal: anthurium wave of love. Namun, gelombang cinta asal negeri bekas jajahan Spanyol itu gelombang daunnya lebih besar-besar. Daunnya pun lebih tipis. Sosoknya berbeda jelas dengan wave of love asal Amerika Serikat yang juga ada di kebun itu. Gelombang negeri Paman Sam rapat, teksturnya keras.

Sepintas, penampilan gelombang cinta filipina itu mirip dengan anthurium koleksi Arifin Sobirin di Batam, Kepulauan Riau. Dari sosoknya, anggota famili Araceae yang disebut terakhir diduga varian gelombang cinta, tapi riaknya besar-besar dan jarang. Arifin mendapatkannya dari Malaysia. Bersamaan dengan itu, datang juga gelombang cinta bertangkai panjang.

Bill raksasa

Bukan tanpa alasan bila banyak hobiis dan pekebun mendatangkan kerabat aglaonema itu dari mancanegara. Sejatinya, anthurium asli Amerika Selatan. Anthos oura itu lantas menyebar ke berbagai negara termasuk negara-negara Asia. Di Kolombo, Sri Lanka, Rosy Nur Apriyanti, wartawan Trubus, melihat berpot-pot anthurium di halaman rumah Athula Kumara Silva. Salah satu koleksi istimewa pengusaha jual-beli mobil itu, induk wave of love dengan 5 spadik menjelang matang. Panjang daunnya membentuk tajuk selebar 2 m.

Sejak 1980-an, banyak hobiis dan pekebun yang mendatangkan anthurium ke tanahair. Kini saat anthurium naik daun, jenis-jenis hasil introduksi jadi incaran. Chandra Gunawan memboyong anthurium big bill dari Miami, Florida, Amerika Serikat. Dari namanya sudah bisa diduga, bunga ekor itu berukuran besar.

Pohon induknya Chandra lihat 7 tahun lalu di Miami. Waktu itu panjang daun mencapai 1 m. Saat ini-dari foto yang ditunjukkan Chandra kepada Kiki Rizkika, wartawan Trubus, daun induk big bill sepanjang 2 m. Daunnya lemas dan menjuntai sehingga sang empunya memajang di atas penyangga setinggi 3 m. 'Ini satu-satunya yang ada di Amerika,' tutur Chandra. Anthos oura itu diduga hasil silangan A. cubense dengan jenis lain. Untuk sementara big bill yang bisa ditemui di tanahair hanya anakan asal biji berdaun 5-8 helai.

Di Jakarta Selatan, Bambang S Tjahjono mengoleksi anthurium marble queen, noname variegata, dan pucuk pink asal Thailand. Bambang mendapatkannya 5 bulan silam waktu menyambangi nurseri-nurseri di negeri Siam. Anthurium yang disebut pertama, berbercak putih di seluruh daun. Daunnya berbentuk oval. Di tanahair ada juga laceleaf berjuluk marble queen, tapi daunnya bergelombang dan lebil panjang. Noname variegata belang-belang hijau putih seperti marble queen tapi daunnya memanjang. Sementara pucuk pink disebut begitu karena daun mudanya berwarna merah muda.

Toh, bukan berarti koleksi hobiis tanahair kalah elok. Di Kaliurang, Yogyakarta, Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, mengabadikan A. jenmanii sultan milik Joe Kok Siong. Si empunya mendapatkan raja daun hias itu 6 tahun lalu saat berdaun 5 helai. Saat ini diperkirakan umur tanaman 14 tahun dengan 3 tongkol. Daunnya tebal dengan permukaan bergelombang dan tepi mengeriting. Tangkai daun pendek sehingga penampilan tanaman terlihat kompak. Namun, pertumbuhan daun lambat.

Di Jakarta, pasangan H Aldrin Siby dan Hj Netty Itawatty Siby memiliki anthurium unik. Disebut unik lantaran daun kerabat caladium itu bisa mengeluarkan air-mirip dengan anthurium airmata bunda koleksi hobiis asal Jawa Tengah. Daun bunga ekor koleksi pasangan Siby biasanya mengeluarkan air pada sore hingga tengah malam dan dini hingga pagi hari.

Unik

Penampilan unik dan apik anggota famili Araceae milik para kolektor pun tersaji di ajang kontes anthurium pada Trubus Agro Expo 2007. Sebut saja misalnya jenmanii mini milik nurseri Gading. Daunnya yang seukuran daun belimbing membentuk formasi mengeliling dan rapat sehingga tajuknya terlihat kompak seperti pagoda.

Tajuk kompak juga jadi daya tarik koleksi Achun Owen di Tangerang. Jenmanii ukuran remaja itu daunnya mengeriting dan menumpuk. Sementara jenmanii milik Mohawari elok dengan bentuk seperti tanduk dan mengkilap. Pantas si empunya menjuluki dengan nama tanduk lilin.

Yang tak kalah unik, hookeri mutasi milik Linda. Salah satu daunnya berbentuk tombak tercabik. Sosoknya gagah dengan arah menjulang ke langit. Sementara wave of love koleksi Cecep Purnama unik karena susunan daunnya bertingkat membentuk 4 penjuru mata angin. (Evy Syariefa/Peliput: Kiki Rizkika, Nesia Artdyasa, dan Rosy Nur Apriyanti)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=132

Pop Marketing Anthurium


Oleh trubuson - Sabtu, 01 Desember 2007

Ini kan fenomena pop marketing,' ujar Rhenald Kasali, PhD. Pernyataan itu meluncur dari bibir pakar pemasaran kawakan itu ketika dimintai komentar tentang fenomena bisnis anthurium terkini. Anggota famili Araceae yang sejak era 80-an dikenal di kalangan hobiis itu tiba-tiba melejit menjadi bisnis bernilai ratusan juta rupiah. Akibatnya, mulai pengojek hingga juragan perusahaan organda berlomba mendulang laba.

Anthurium menjadi ngepop, populer, gara-gara disebut-sebut mendatangkan untung. Menurut kabar, seorang juragan emas di Karangpandan, Karanganyar, mendapat laba ratusan juta rupiah dalam hitungan bulan. Itu hasil penjualan biji-biji Anthurium jenmanii dari indukan dengan tongkol siap panen. Informasi itu dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut dan lewat media massa. Akibatnya, ribuan tanaman induk diburu dari daerah sentra di Bogor, Depok, Jakarta, dan Tangerang.

Menurut Rhenald, cerita seperti itu dengan mudah diterima masyarakat. 'Ini karena sekarang kita memasuki era yang disebut the dream society. Di era ini, masyarakat membeli sesuatu karena cerita di balik produk itu,' lanjut doktor dari University of Illinois, Urbana & Champaign, Amerika Serikat itu.

Perilaku bergerombol

Euforia bisnis anthurium pun merembet ke berbagai kota. Di Jakarta ada Janti Kusyanti dan Bambang Tjahjono; Arifin Sobirin (Riau); Joseph Tondas dan Yudi Wijanarko (Palembang); serta Gesang Singgih Priyono dan Edy Sutioso (Surabaya). Di antara mereka banyak yang berlatar belakang nonpertanian. Djudju Antony, eksportir diskus dan Anthonius bekerja di bidang hiburan (Jakarta), sementara Dr Hj Sulastri ME MKom dosen di Universitas Sriwijaya (Palembang).

Sejalan dengan lonjakan pemain, harga anthurium membubung. Pada era 90-an akhir harga induk jenmanii paling Rp1-juta. Pada 2006 harganya hingga belasan juta rupiah per tanaman induk. Setahun berselang, melonjak lagi jadi di atas Rp100-juta per induk.

Menurut catatan Hauw Lie, harga bibit 2 daun sebelum 2004 hanya Rp2.000-Rp3.000. Pada awal 2006 naik jadi Rp4.000-Rp5.000 per bibit; Maret (Rp22.500), dan Juni-Agustus 2006 (Rp70.000). Pada akhir 2006 sempat turun jadi Rp17.500-Rp18.000 per bibit, tapi Agustus 2007 naik lagi hingga Rp100.000.

Melihat pergerakan harga itu, Ir Satrio Wiseno, M Phil berujar, 'Ini sebetulnya kasus supply dan demand biasa. Ketika pasokan tetap, mendadak permintaan naik. Secara otomatis harga akan naik,' katanya. Praktisi survei pemasaran itu menduga, lonjakan itu dipicu stimuli tertentu. Dr Ir Roy Sembel, MBA, pakar keuangan dan investasi, sepakat. Doktor bidang corporate finance and econometrics dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat itu menyebut fenomena itu bisa dijelaskan lewat analisis perilaku bergerombol (hording behaviour) manusia.

Ketika sekelompok orang berhasil mengingar-bingarkan komoditas tertentu, itu membuat orang lain jadi ingin tahu. Mereka pun melakukan permintaan. 'Ketika stok terbatas, maka hukum ekonomi berlaku: harga naik,' lanjut dekan Fakultas Ekonomi Universitas Multimedia Nusantara itu.

Pengajar program doktoral magister bisnis di Universitas Padjadjaran itu mencontohkan fenomena tulip bubble di Belanda sekitar 100 tahun silam. Waktu itu ada sejenis tulip sangat populer dan banyak diincar karena menurut sekelompok hobiis istimewa: punya warna lebih gelap sehingga disebut tulip hitam. Harga 1 bulb setara dengan harga sebuah rumah. Pada kasus anthurium, gara-gara disebut menguntungkan, permintaan melonjak tiba-tiba. Apalagi tanaman hias memang populer di masyarakat.

Roy mengistilahkan tren yang dipicu selera masyarakat sebagai fad behaviour. Biasanya, tren seperti itu terjadi pada barang-barang yang sifatnya tidak kasat mata, tidak bisa diraba alias intangible. Misal berkaitan dengan khasiat kesehatan, keindahan, dan hoki. Karena sifat intangible-nya itu, harga bisa dibuat membumbung. Syaratnya, barang itu mesti langka dan sulit diperbanyak. 'Misalnya barang seni seperti lukisan,' kata Satrio.

Arry Seno Handoyo, pionir di Solo, menuturkan kepada Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, anthurium-terutama jenmanii-mahal lantaran punya fungsi keindahan. 'Jenmanii itu punya seribu wajah, punya banyak keunikan yang akhirnya memunculkan banyak sebutan,' ujar pemilik nurseri Sabda Alam itu. Lagi pula anggota famili Araceae itu bersifat abadi, makin dewasa kian muncul keindahannya. Tom Croat, presiden International Aroids Society, menyebut jenmanii alias A. bonplandii var guayanum memang menarik. Namun, harga di Indonesia membuat mata membelalak.

Hitungan busa

'Dalam kacamata finansial ekonomi, bisnis tanaman hias terjadi karena adanya persepsi yang berkaitan dengan hobi,' kata Elvyn G Masassya, praktisi dan konsultan keuangan. Jika persepsi itu mendapat sambutan positif, maka terciptalah bola saljunya. Yang tertarik terjun ke bisnis itu mulai dari kalangan bawah hingga atas.

Ini mudah terjadi karena sifat manusia gampang diiming-imingi hitung-hitungan busa-bubbles-alias omong kosong sekalipun. 'Hanya dengan menyuruh membayangkan dengan membeli indukan Rp5-juta, nantinya jadi 20 anakan harganya masing-masing Rp5-juta berarti didapat untung sekian, mereka sudah tertarik. Padahal di dalamnya ada risiko yang tidak disebutkan,' papar Satrio.

Kenaikan permintaan dan harga pun terjadi. Kondisi seperti itu yang menurut Elvyn memberi persepsi bahwa ini investasi yang baik. 'Padahal investasinya buatan, artificial investment,' lanjut pengisi kolom investasi dan keuangan di sebuah harian itu. Arry Seno Handoyo bercerita, ia sempat menukar mobil dengan indukan jenmanii. Ketika ada orang yang berani menawar, kelahiran Solo 8 Agustus 1960 itu menaikkan harga. 'Sehingga timbul persepsi tanaman ini mahal,' tuturnya.

Fenomena itu bisa dianalogikan dengan 'goreng-menggoreng' saham di bursa efek. Ketika ada saham hendak dinaikkan harganya, pemilik atau pialang membuat permintaan tinggi. Permintaan riil tidak ada, tapi terjadi transaksi antarpialang untuk mendongkrak harga. Begitu harga tinggi, saham dilepas.

Bibit anthurium mirip saham, dibeli untuk dijual kembali supaya didapat laba tinggi. Fenomena itu dikhawatirkan membentuk pasar imajiner. Pasarnya antarpedagang. 'Dengan harga per tanaman Rp20-juta-Rp200-juta dikhawatirkan tidak ada end-user-nya,' tutur Rhenald. Didik Setiawan, pelopor anthurium di Karanganyar, mengakui mayoritas pemain anthurium adalah pedagang murni. Di mata para pakar, ini identik bisnis cacing pada awal 90-an. Disebutkan ada permintaan untuk ekspor sebagai bahan kosmetik. Setelah ditelusuri, permintaan nol.

Namun, Didik menampik dugaan 'goreng-menggoreng' itu. 'Tidak mungkin pasar dibentuk oleh sekelompok orang. Tentu sangat sulit memborong anthurium di seluruh Indonesia karena jumlahnya pasti sangat banyak dan tersebar di mana-mana,' tuturnya. Tren muncul karena mekanisme pasar. Banyak orang mengekor berbisnis anthurium lantaran melihat bukti. Siapa yang tidak tergiur pengalaman Hauw Lie membeli mobil dengan menjual 1 spadik jenmanii senilai Rp500-juta?

Investasi emosi

Itu berarti, investasi di tanaman hias (baca: anthurium) sah-sah saja. Namun, karena berkaitan dengan hobi, 'Itu adalah investasi emosi yang dipengaruhi selera pasar,' kata Roy. Supaya menjadi investasi aman, calon investor mesti tahu rambu-rambunya. Ia mesti tahu produk yang akan dihasilkan, berapa besar kebutuhan pasar, bagaimana rantai tataniaganya, di mana konsumennya, berapa harga di setiap level tataniaga, bagaimana cara mengantarkan dari titik awal produsen sampai titik akhir konsumen, hingga pemanfaatan produk di tingkat konsumen akhir.

Pertanyaan menjual pada siapa dan apakah ada permintaan berulang, repeat purchase, harus bisa dijawab. Semua rambu itu untuk menjamin keberlanjutan pasar. Pendek kata, 'Tanaman hias akan menjadi investasi menarik jika hobiisnya banyak dan permintaannya terus-menerus, sementara supply terbatas,' ujar Elvyn, mantan direktur Bank Permata yang kini menjabat corporate secretary BNI 46 itu. Namun, mengukur permintaan produk bersifat estetika sulit karena bukan kebutuhan pokok.

Belakangan, kondisi mulai bergeser. Pada Agustus 2007, harga biji gelombang cinta naik drastis dalam hitungan minggu. Menurut catatan Iwan Hendrayanta, pemain di Jakarta Barat, pada 14 Agustus 2007 harganya di Jakarta Rp2.000; 20 Agustus (Rp5.000); 31 Agustus (Rp10.000); 9 September (Rp15.000); dan 14 September (Rp17.500). Pergerakan harga membuat pasar menggeliat. Maklum berkaca pada pengalaman jenmanii, begitu menanjak, harganya ajek tinggi.

Apa lacur, memasuki September 2007 harga wave of love meluncur. Harga biji tinggal Rp3.000. Bibit dengan 2-3 daun Rp17.000-Rp20.000. Padahal pada Juli-Agustus sempat menyentuh angka Rp30.000 per bibit. 'Sekarang ini semua menahan barang. Tidak ada yang menjual dan membeli. Tujuannya untuk menahan harga,' ujar Ricky Hadimulya, pemain di Sawangan, Depok. Ratusan bibit yang diimpor dari Amerika Serikat pun masih mangkal di nurserinya.

'Umur tren barang intangible pendek,' ucap Roy. Itu tergantung pada selera masyarakat. Ketika nilai intangible-nya jatuh, yang tersisa nilai kasat mata yang tidak sebesar nilai intangible. Saat itulah bola salju bisnis mencair. Kondisi pasar kembali ke kondisi normal, harga normal. Tren tulip hitam berlangsung kira-kira 1 tahun. Berdasarkan kemiripannya, anthurium diduga bakal mengalami hal sama.

Makanya para pakar mewanti-wanti mereka yang ngotot berinvestasi di anthurium. 'Untuk investasi jangka pendek, sepanjang yang bersangkutan punya sumber informasi dari banyak orang tentang permintaan dan pasar, ia berada dalam kondisi strategis untuk bermain,' kata Roy. Untuk investasi jangka panjang, sebaiknya berpikir ulang. Mereka yang masuk belakangan tanpa perhitungan tepat jadi pihak yang paling rugi. Sementara si pencipta spekulasi sudah berpindah lagi.

Bisnis di harga wajar

Toh, buat Gunawan Wijaya, pemain tanaman hias senior di Sentul, Bogor, wajar banyak orang membenamkan investasi di tanaman hias. 'Sekarang kondisi sektor riil mati. Kalau uang disimpan di bank, berapa bunganya? Bandingkan dengan keuntungan kalau dia menginvestasikan di tanaman hias,' kata mantan pegawai bank swasta itu. Masuknya para pemodal kuat dengan latar belakang nonpertanian justru menunjukkan investasi tanaman hias adalah bisnis nyata. Hanya saja, memang perlu dilakukan analisis pendahuluan. 'Tanpa itu, bukan investasi tapi buang-buang duit,' imbuhnya.

Supaya tren langgeng, 'Sangat tergantung pada kemampuan orang-orang di dalam melakukan inovasi dengan menciptakan sifat-sifat intangible baru,' kata Roy. Ini untuk mengatasi penurunan permintaan dan harga akibat kejenuhan dengan persepsi sifat intangible awal. Pantas setahun tren anthurium berlalu, kini cerita tentang jenis-jenis hitam banyak dicari tengah digadang-gadangkan.

Pemula mesti membidik sasaran bisnis dengan tepat. Ia mesti tahu berapa harga di tingkat normal, ketersediaan stok di pasar, pasar yang akan menyerap, dan sampai kapan pasar bisa menyerap. Kasus wave of love jadi pembelajaran cara membaca pasar.Toh, para pemain yakin pasar anthurium tetap menjanjikan. Indikasinya antara lain, perluasan pasar ke luar Jawa. Mayoritas pemain yang pedagang justru 'menguntungkan'. 'Makin banyak pedagang justru makin banyak konsumen,' kata Gunawan Wijaya.

Pemilik Wijaya Orchids itu mencontohkan pengalaman adenium. Bisnis kamboja jepang kian membesar ketika pemain baru bermunculan. Musababnya, setiap pedagang pasti berupaya supaya dagangannya laku dan menarik konsumen. Namun, kehadiran pebisnis 'jahil' yang hanya mengambil keuntungan sesaat bisa menjadi batu sandungan.

Elvyn menyarankan pemain melakukan diversifikasi supaya tanaman hias jadi investasi berkelanjutan. Diversifikasi yang dimaksud, memainkan banyak jenis tanaman hias berbeda. 'Karena suatu saat tren akan hilang dan berganti dengan yang lain. Diversifikasi merupakan upaya mengurangi risiko kerugian,' kata mantan komisaris Bank Bali itu.

Yang juga harus dipahami, pasar akan stabil. Harga akan berada di bawah harga ketika tren. Itu yang kini terjadi pada adenium, lou han, dan aglaonema-sekadar mencontohkan. Pergerakan pasar aglaonema terjadi pada jenis-jenis dengan harga Rp100.000-Rp200.000-an per tanaman. Adenium bisa dibeli di pedagang keliling Rp25.000 per tanaman. Sementara margin rasional komoditas pertanian hanya 5-10%. Kini pilihan ada di tangan para calon pendulang laba. (Evy Syariefa/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Destika Cahyana, Dian A Susanto, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Lastioro Anmi Tambunan, dan Sardi Duryatmo)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=135

Bisnis Anthurium Bukti Ramalan 850 Tahun Silam

Idola baru Indonesia! Itu kalimat tepat buat anthurium, si raja daun yang lagi naik daun. Pejabat, pengusaha, hingga tukang becak 'menyantapnya' sebagai obrolan sehari-hari sejak 1,5 tahun silam. Ia disebut-sebut sebagai tanaman investasi. Namun, ahli statistik, marketing, keuangan, dan investasi sepakat memberi peringatan: 'Itu pasar semu, bisnis musiman, dan bubble phenomenon alias hitung-hitungan busa.' Benarkah bisnis anthurium hanya omong kosong?

Dunia tanaman hias-termasuk anthurium-di Indonesia memang unik. Saya mengamati perkembangan tanaman hias sejak 23 tahun silam. Tren tanaman hias selalu berganti, bagaikan sebuah roda yang berputar. Banyak tanaman yang sebelumnya tak populer tiba-tiba mencuat ke permukaan. Sebut saja palm, sansevieria, euphorbia, adenium, dan aglaonema. Mereka pernah menjadi tanaman hias berharga mahal.

Diakui atau tidak tanaman hias itu populer karena ada faktor pemicu. Lazimnya dibuat segelintir orang yang kerap disebut trensetter. Ia bisa perorangan atau pun kumpulan orang yang belum tentu saling mengenal. Namun, vonis bisnis semu tak otomatis layak diberikan pada komoditas yang trennya dibuat segelintir orang. Pengalaman sejak 1984 membuktikan, end user tanaman hias di Indonesia memang ada.

End user itu berupa kolektor yang berani membeli dengan harga tinggi-dari jutaan hingga miliaran rupiah-dan hobiis rumah tangga yang hanya menyerap tanaman hias bernilai ratusan ribu ribu. Jumlah mereka selalu bertambah dari masa ke masa. Banyak hipotesis yang menjelaskan mengapa jumlah itu selalu bertambah. Publikasi media, pertumbuhan ekonomi yang kian membaik, mitos, dan sejarah di balik tanaman, hingga budaya masyarakat Indonesia turut mempersubur sebuah tanaman menjadi klangenan yang dicintai.

Nyata

Pergulatan anthurium dan saya sebagai ketua umum Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) bisa menjadi contoh. Mulanya saya tergolong orang yang mencibir dan meragukan kehadiran anthurium sebagai idola baru. Bentuk dan warna daun yang hijau monoton tak semenarik aglaonema. Maklum, selama ini saya dikenal sebagai pemain aglaonema dan kolektor enchephalartos.

Namun, setelah iseng-iseng mengoleksi 1-2 anthurium dan mengamati secara detail di waktu senggang, anthurium seolah memancarkan sebuah aura. Ketebalan, tekstur, dan urat daun yang kokoh menarik saya untuk mencintainya. Ia menyimbolkan sebuah kegagahan. Itu yang belum saya temui pada tanaman hias indoor lain. Itu kisah setahun silam, kala saya jatuh cinta pada anthurium. Tentu kolektor lain banyak yang mengalami kejadian seperti itu.

Harga yang terus bergerak pun menjadi daya tarik bisnis. Saya mengalami sendiri, sebuah anthurium kobra berdaun 5 yang dibeli Rp12,5-juta pada Februari 2007 kembali ke tangan saya 3 kali dengan harga yang terus merangkak naik. Kobra itu dijual pada Maret 2007 senilai Rp50-juta, dan saya beli kembali pada April seharga Rp68-juta. Lalu kolektor lain membelinya Rp90-juta pada Juli 2007. Saya membelinya kembali dengan harga Rp125-juta untuk persiapan pameran. Meski tak laku pada pameran, November lalu, seorang kolektor mengambilnya dengan harga Rp180-juta.

Sebuah transaksi yang nyata dan tak ada seorang pun kolektor dirugikan. Saya dan pelanggan sama-sama untung karena kobra itu selalu dibeli dengan harga lebih tinggi ketimbang sebelumnya. Pertanyaan yang kerap diajukan ialah, apa motivasi seorang kolektor berani membeli dengan harga tinggi? Jawabannya sederhana, sebuah prestise. Memang, anthurium bukanlah barang sembako yang menjadi kebutuhan primer setiap orang. Namun, akar sejarah dan budaya masyarakat Indonesia membuktikan, prestise bagi masyarakat Nusantara menjadi sebuah kebutuhan penting.

Kebutuhan pada prestise itu dimiliki setiap lapisan masyarakat. Artinya, setiap orang rela membelanjakan uangnya demi sebuah prestise sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sebagai contoh, baru-baru ini saya menemukan sebuah desa di kaki Gunung Lawu. Penduduk desa itu dengan pendapatan ekonomi seadanya mengoleksi anthurium selama puluhan tahun. Tak seorangpun berniat melepasnya meski ditawar dengan harga tinggi. Menurut mereka, anthurium ialah tanaman yang dirawat oleh raja-raja di masa silam. Memiliki tanaman koleksi raja menjadi sebuah kebanggaan yang tak dapat dinilai dengan harta benda.

Bukti ramalan

Perjalanan ke berbagai daerah di pelosok Jawa juga membuat mata saya terbuka. Ternyata nilai sebuah daun bagi masyarakat Nusantara-khususnya Jawa-sangat penting. Seorang tetua yang mengenal budaya Jawa pernah mengatakan ada sebuah ramalan Jayabaya tentang daun yang fenomenal. Konon, penguasa Kediri pada 1135-1159 M itu pernah meramal, di masa depan semua barang di dunia-rumah, kendaraan, tanah, senjata-bisa ditukar oleh selembar daun.

Mungkin itu berkaitan dengan cerita mistik yang kerap kita dengar, banyak orang sakti berbelanja dengan daun yang disihir menjadi uang. Namun, ramalan itu ternyata terbukti. Sejak tren aglaonema selembar daun dinilai sebagai rupiah. Ramalan itu kian nyata pada anthurium. Banyak transaksi rumah, tanah, dan kendaraan di sentra anthurium Karanganyar, Solo, dan Yogyakarta, menggunakan daun, si raja daun anthurium.

Itu cerita masa lalu yang menjadi nyata saat ini. Prestise memiliki anthurium pun menghinggapi kalangan artis yang kerap menjadi publik figur. Sebut saja Rano Karno, artis yang giat memproduksi pupuk organik. Ia pernah mengatakan, jangan mengaku kaya di Indonesia bila belum memiliki anthurium. Artinya, simbol kemapanan bukanlah sekadar mempunyai tempat tinggal, wanita, dan kendaraan saja. Seseorang belum diakui hidup mapan bila belum memiliki anthurium. Dalam artian lebih luas lagi, bila belum memiliki klangenan.

Mitos, sejarah, dan budaya itu menjadi modal anthurium untuk populer. Ia kian melejit karena publikasi media yang jor-joran. Tak hanya media pertanian yang mengulasnya. Media cetak umum mengulasnya dalam waktu yang berdekatan. Hampir seluruh televisi pun mempublikasikannya. Belum lagi tabloid pertanian di daerah yang menjamur. Konon, ada 15 media baru yang muncul karena anthurium. Mirip menjamurnya tabloid politik di era reformasi karena dibukanya keran kebebasan.

Akibatnya, masyarakat Nusantara dari Sabang sampai Merauke tersihir oleh anthurium. Pecinta dan pemain si raja daun kian bertambah. Segelintir orang bermodal besar yang mulanya memicu tren anthurium tak lagi bisa mengendalikan. Siapa yang sanggup mengatur ribuan orang? Namun, seperti roda yang berputar, semua tren memiliki zaman masing-masing. Kejenuhan di masa depan ialah sebuah keniscayaan. Sayang, tak ada yang bisa meramalnya kapan itu terjadi. (Iwan Hendrayanta, ketua umum Perhimpunan Florikultura Indonesia, tinggal di Jakarta)

http://www.trubus-online.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=1&artid=133

TIPS

MEN-STERIL-KAN MEDIA TANAM :

Media tanam Anthurium sebagian besar adalah akar pakis, juga ada bahan lain yang digunakan untuk campuran antara lain sekam bakar, kompos, pupuk kandang dan cocopeat.
Tetapi seringkali para hobiis yang mungkin dengan terbatasnya waktu dan pengetahuan tentang anthurium, tidak men-sterilkan-media tanam dulu sebelum digunakan. Dan berakibat munculnya jamur/fungi yang menyebabkan kebusukan akar.
Cara untuk membuat steril media tanam sebagai berikut :

1. Lakukan proses pemanasan dengan oven atau bisa juga di-sangrai sampai kandungan air pada pakis habis/kering. terutama pada pakis muda ( dipasaran pakis yang berumur tua/memenuhi syarat mulai langka ).

2. Rendam atau semprot pakis dengan fungisida/anti jamur dan biarkan/di angin-anginkan selama kurang lebih 2-3 jam.

3. Lalu jemur di bawah terik matahari selama kurang lebih 3-5 jam. Perhatikan pakis harus di aduk beberapa kali agar penyinaran merata dan sampai kering semuanya.

4. Pakis siap dan aman untuk digunakan.


MENJAGA KETAJAMAN WARNA :

Seringkali para hobiis anthurium mengeluh karena Anthurium berwarna yang mereka miliki menjadi pudar, bukan malah semakin tajam malah perlahan-lahan kembali ke warna hijau. Tentu saja akan mengurangi keindahan sekaligus nilai jualnya. Sebenarnya bukan hal yang sulit dilakukan, bila anda tahu tips-tipsnya ! Berikut ini apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga ketajaman warna pada Anthurium.

1. Ini merupakan cara yang paling penting. Jemur Anthurium anda di bawah sinar matahari pagi antara jam 8-9 selama kurang lebih 0,5 - 1 jam. Jangan terhalang paranet atau apapun. Ini berguna untuk menjaga pigmen warna pada Anthurium anda.

2. Jaga kelembaban pada sekitar tanaman. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain, lakukan pengabutan pada daun secara berkala terutama ketika suhu sangat panas/terik matahari di siang hari. Bisa juga ditaruh pancuran air ( banyak tersedia di supermarket ) atau di buat kolam di bawah tanaman anda.

3.Berikan arang pada atas media. Ini bukan berarti warna arang yang hitam bisa membuat Anthurium anda berwarna hitam ! Arang lebih berfungsi untuk mengikat karbon di udara yang dengan sendirinya membantu proses fotosintesa Anthurium anda. Atau bisa diberi sedikit tembakau untuk mencegah jamur atau cendawan yang bisa menggangu tanaman anda.

by DENI KURNIAWAN


Aglaonema Greg Hambali

Aglaonema Greg Hambali
Sabtu, 24 November 2007 04:31:19 - Post By admin
Catatan Aglaonema

Tahukah anda aglaonema apa saja yang telah dihasilkan Bpk. Greg Hambali ? Kami menemukan catatan untuk itu sbb :

Donna Carmen (1985), asal nama : Donna Carmen diambil dari nama penjual nasi di Costa Marques - Brazil, tempat dimana Greg singgah untuk makan selama ekspedisinya.

Pride of Sumatera (1993): Pride og Sumatera artinya kebanggaan Sumatera. Greg berterimakasih kepada Sumatera yang telah mempersembahkan aglaonema Rotundum sebagai penyumbang warna merah yang monumental, yang menjadi bahan ciri khas dari penyilangannya. Adelia (Tahun release : 2000). Asal nama : Diambil dari nama kolektor tanaman hias di Manila, Adelia Angeles yang membantu perburuan Aglaonema Commutatum di kawasan Panay, Filipina.

Widuri (Tahun release : 2000). Asal nama : Terinspirasi dari lagu lama yang berjudul Widuri yang dinyanyikan oleh Bob Tutupoly. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang gadis yang cantik , secantik Aglaonema Widuri.
Tiara (Tahun release : 2004). Asal nama : Nama dari puteri Antony Ekasaputra, petani tanaman palem di Bogor.

Madame Soeroyo (Tahun release : 2004). Asal nama : Mengambil nama kolektor setia aglaonema asal Jakarta Selatan yang merupakan sahabat baik Greg, Tati Soeroyo. Nama itu sekaligus sebagai hadiah untuk ulang tahunnya yang ke 80.
Angelina (Tahun release : 2004). Asal nama : karena mirip dengan A. Angela maka dinamai Angelina.

Agela (Tahun release 2004). Sebenarnya namanya Ageles, berasal dari Adelia Angeles , nama kolektor tanaman. Tetapi karena Angeles merupakan nama laki-laki , maka diganti menjadi Angela.
Kreshna (Tahun release 2004). Asal nama : Nama Raja yang bijaksana , salah satu tokoh dalam pewayangan.

Sexy Pink ( tahun release : 2004). Asal nama : Warna pink yang dominant dan indah.Shinta (elease : 2004). Asal nama : Nama tokoh pewayangan dalam kisah Rama dan Shinta.
Ruby (tahun release : 2006). Asal nama : Warna bercaknya merah sebagaimana batu Rubi.
Jatayu (Tahun release: 2004). Asal nama : Nama tokoh burung dalam cerita pewayangan.

Lipstick. (tahun release : 2004 / 2005). Asal nama : Dinamai lipstick lantaran pinggiran daunnya berwarna merah menyala sebagaimana bibir yang menggunakan pemulas bibir (lipstick)
Petita (tahun release : 2004) asal nama : Berasal dari bahasa latin yang berarti langsing.
JT 2000. (Tahun release : 2000) . Asal nama : diambil dari nama sahabat Greg dari Singapura : John Tan.

Ruth (tahun release 2005). Asal nama : nama ahli botani yang bermukim di Malaysia DR.Ruth Kiew.
Dolores. (tahun release : 2004/ 2005). Asal nama : berasal dari nama pemilik Blooming Good Nursery, di Florida : Dolores Fugina.
Teresa. (tahun release : 2004 / 2005). Asal nama : diambil dari nama Bunda Teresa , tokoh perdamaian dunia yang punya hati lembut.

Srikandi. (tahun release : 2004). Merupakan aglaonema seri wayang ( yang dinamai tokoh pewayangan). Srikandi diambil dari ksatria putrid yang pandai memanah.

Juliet. (tahun release : 2004 / 2005. Asal nama : Pemilihan namanya terkait erat dengan kisah romantis Romeo and Julie. Drama klasik karangan Shakespeare.

Jake Henny. (tahun release : 2003). Asal nama : penampilannya gagah hingga cenderung maskulin, maka dinamai dengan nama laki-laki, Jake.
Hot Lady. (tahun release : 2005). Asal nama Namanya agak lain dari sebelumnya karena yang memberinama anak pak Greg : Mia).

Super Pride. (tahun release : 2005). Berasal dari nama Pride of Sumarera dengan warna super merah.
Stella. (Tahun release : 2004 ). Asal nama : Nama lembut identik dengan nama perempuan, karena Aglaonema Stella berkarakter lembut.

Catherine. (tahun release 2004). Asal nama : nama lembut yang mencerminkan kelembutan warna.
Lucky (tahun release : 2004). Asal nama : Nama maskulin karena warnanya yang kontras dengan sosok gagah.

Lisa (tahun release : 2004). Asal nama : nama feminim.

Evita (tahun release : 2004). Asal nama : nama perempuan (feminim karena warna daun lembut).
Esmeralda (tahun release : 2004). Asal nama : Nama perempuan karena warna tanaman lembut.
Moonlight. (tahun release : 2005). Asal nama : bentuk daunnya bulat dan kekuningan seperti bulan yang sedang bersinar).

Diana (tahun release : 2004). Asal nama : sosoknya tinggi, ibarat Lady Diana, mendiang istri Pangeran Charles sehingga dinamai Diana.
Amalia (tahun release 2004 / 2005 ). Asal nama : tidak diketahui.

Srigading (tahun release : 2004 / 2005). Asal nama : Berasal dari kata gading karena warnanya kuning mirip warna gading.
Reina (tahun release : 2005). Asal nama : nama perempuan (feminism).

Veronica. (tahun release: 2005. Asal nama : nama perempuan (feminism).

Harlequin. Tahun release : 2006). Asal nama : Penampilannya memukau orang. Dengan melihatnya akan mendatangkan kesenangan.

Mutiara . Asal nama : Aglaonema ini diberi nama Mutiara karena kelir putih kekuningan di daunnya menimbulkan suasana kemilau , ibarat kilauan cahaya mutiara.

Siti Nurbaya. Asal nama : pemberian nama aglaonema ini terinspirasi oleh legenda Siti Nurbaya, sesungguhnya agklaonema ini termasuk seri Ruby.

Urat Bihun / Siti Nurhaliza. Asal nama : Terinspirasi oleh kecantikan paras dan kemerduan suara penyanyi asal Malaysia, Siti Nurhaliza, yang terkenal lewat lagu “Cindai”.

Ariana (tahun release 2004). Asal nama : Aglaonema ini koleksi Songgo (Jakarta). Nama Ariana untuk menghormati nama teman Songgo, kolektor aglaonema di Jakarta Barat.
Audrey (tahun release : 2004). Asal nama Audrey diambil dari nama puteri Songgo.

Dikutip dari buku Aglaonema Silangan Greg Hambali /FLONA Serial)
http://www.daoenbagoes.com/Aglaonema_Greg_Hambali,1.html